back-button

Sastra itu membebaskan!

Seperti biasa jika berkunjung ke Dewan Kesenian Jakarta yang bertempat di atas gedung XXI Taman Ismail Marzuki, sosok Martin Aleida sering saya jumpai. Ia terbiasa duduk di meja bundar dengan secangkir kopi yang ia buat sendiri di dapur kantor itu. Kadang sekadar beristirahat di sofa hitam panjang yang empuk tempat saya juga sering selonjoran di sana jika suntuk bekerja. Tapi paling sering saya melihat beliau di ruang kaca sedang mantengi laptop kecilnya, menulis cerita.

Laki-laki kelahiran Tanjung Balai, Sumatra Utara, 31 Desember 1943 ini tidak memiliki ruang khusus untuk bekerja di rumahnya. “Saya punya beberapa pohon cukup besar di rumah. Kalau saya menulis di sana dan melihat ada daun-daun berjatuhan di pekarangan, saya jadi menyapu.” Dulu beliau memang banyak menghabiskan waktu di PDS HB Jassin untuk menulis dan berdiskusi. Sayangnya tempat itu tidak sehidup dulu lagi sehingga ia harus hijrah ke beberapa tempat untuk dapat menyelesaikan tulisannya, dan salah satunya adalah Dewan Kesenian Jakarta.

Cerita-cerita yang ditulisnya saya anggap sangat menarik dan khas. Khas karena kita akan menemukan satu kompleksitas yang sama tentang tema yang banyak mengangkat persoalan kemanusiaan dan ’65. Kilas balik sejarah masa lalu yang kelam, traumatis, tapi juga ada efek romantisisme yang ditawarkan. Hal ini mendekatkan saya pada masa di mana saya belum dilahirkan, semacam kita menonton berita televisi yang menginformasikan suatu peristiwa heboh tapi kita hanya mendengarnya. Tidak mengalaminya. Bagi saya Martin Aleida jadi semacam orang dulu yang masih hidup dengan gaya tulisan seperti dulu yang tetap hidup, hanya untuk memberitakan sebuah kabar dan kebenaran agar terus hidup.

Sastrawan yang berhasil meraih penghargaan Cerpen Pilihan Kompas 2016 lewat karyanya yang berjudul "Tanah Air" beberapa waktu lalu ini berkata bahwa cerita pendek, dia harus membebaskan.

”Sastra pada umumnya, secara khusus cerita pendek, dia membebaskan.”

Nampaknya keyakinan seperti inilah yang membuatnya terus menghasilkan cerpen-cerpen terbaik. Di tangan seorang penulis, karya sastra memang dapat menjadi senjata yang membebaskan. Karya sastra menjadi sarana kreatif untuk mengungkapkan, menceritakan, juga merekam peristiwa dan pesan yang selama ini terbungkam. Bagi Martin Aleida sendiri tidak soal kalaupun ia mendapat cap sebagai penulis kiri karena mengungkap hal yang terbungkam itu.

“Saya tidak akan menulis sesuatu yang tidak saya kuasai. Karena dengan mudah orang akan tahu bahwa ini tidak bisa dipercaya. Saya tidak ada pretensi untuk mengajari, tapi itulah yang saya kuasai. Kemarin saya menyelesaikan suatu cerita yang agak pribadi tentang keluarga kakek saya. Karena itu saya kuasai betul dan itu menyentuh jadi saya tulis. Bahwa kecenderungan saya orang bilang kiri itu, oke. Tapi kalau dibilang orang yang spesialis nulis ini tidak juga. Ada sejumlah cerpen saya juga yang tidak bisa ditafsirkan sebagai pro-politik. Tapi orang gampang memutuskan sesuatu yang bersifat judgement terhadap orang lain.”

Martin Aleida mengakui, cerpen Tanah Air memang punya kesan tersendiri. Cerpen tersebut ditulis berdasarkan hasil riset dan pengalaman jurnalisnya beberapa bulan di tahun 2016 saat mewawancarai eksil-eksil yang berada di luar negeri (Eropa). Khusus untuk cerpen ini sebenarnya ia mengalami kebingungan bagaimana harus menuliskannya. Ada seorang eksil perempuan di Belanda, suaminya dikenalnya walaupun tidak begitu dekat, seorang wartawan olahraga. Seperti di dalam cerita itu, sang istri ini bercerita detail sekali, bagaimana dia pacaran, sampai suaminya ini bunuh diri karena tidak tahan. Pertama dia tidak bisa pulang, kemudian anaknya menganggap bapaknya ini tidak “bener”.

“Ini cerita si perempuan tadi, bahwa anaknya menuduh dia menelantarkan keluarga dan tidak bertanggung jawab. Ini bikin bapaknya tambah stres. Anak ini, kan baru 10 tahun. Dia tidak tahu dan tidak mengerti bahwa di satu masa ada orang yang tidak bisa pulang ke negerinya,” cerita peraih penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa 2004 atas karyanya yang berjudul Leontin Dewangga (kumpulan cerpen) ini sedikit tidak percaya.

“Dia tidak mengerti itu. Tambah stres lagi karena di dalam kelompok ini tidak bisa pulang. Terjadi pertentangan. Sampai dia cerita ini, suaminya itu memutuskan bunuh diri lompat dari apartemen lantai delapan. Itu dalam wawancara dengan ibu ini, istrinya. Saya jadi ragu ya, apakah ini semua on the record, boleh saya tulis?” lanjutnya. Kebingungannya menuliskan hasil wawancara ini disebabkan sang istri tersebut tidak ingin identitasnya dan identitas keluarganya diketahui. Meski dia menyarankan gaya penulisan seperti seorang mantan duta besar yang memberitakan kematian suaminya, dengan tidak menyebutkan nama suami dan anaknya. Namun, tentu saja bagi seorang Martin Aleida ini menjadi sulit. Bagi beliau, kebenaran bagaimanapun buruknya tetap harus diungkapkan. Apalagi ini korban.

Memang perjalanannya sebagai seorang wartawan Harian Rakyat di tahun 1965 silam telah mengasah keberanian dan nuraninya untuk mengungkapkan fakta. Telah banyak yang dilihatnya dengan mata telanjang. Saat dirinya dan beberapa kawannya tertangkap tiba-tiba ketika Operasi Kalong yang dilancarkan oleh Angkatan Darat yang dipimpin oleh seorang kapten resimen Para Komando Angkatan Darat Kapten Soeroso, ia justru tidak hanya melihat tapi juga mengalami sejarah kelam itu. Ia dan teman-temannya; Putu Oka Sukanta, T. Iskandar AS, dan ada seorang pelukis dan adik seorang pelukis Marah Djibal, serta seorang pembantu rumah tangga bernama Wagio ditangkap tanpa ada penjelasan dan alasan yang jelas. Mereka kemudian ditempatkan di kamp konsentrasi yang terletak di seberang jalan Budi Kemuliaan, Komando distrik militer 0501 Jakarta Pusat. Ia tahu bagaimana mereka semua diperlakukan dan disiksa untuk mengakui dan menyebutkan nama-nama yang dicurigai anggota PKI. Dan ia adalah orang yang beruntung sebab tidak mengalami penyiksaan tersebut. Seakan-akan Tuhan membutuhkannya menjadi saksi sejarah untuk merekam semua yang dialaminya pada masa itu dalam tulisan-tulisannya.

Hal inilah yang membuatnya sangat menyayangkan keinginan narasumber tersebut yang tidak ingin identitasnya diketahui. Lima puluh tahun sudah berlalu sejak kejadian itu, mereka yang terasing di negeri orang lain tetap saja tidak ingin mengungkapkan identitas mereka bahkan untuk bangsanya sendiri. Trauma ketakutan memang hantu yang sulit pergi. Ditambah lagi bagaimana mereka melihat Indonesia di masa kini yang semakin brutal lewat pemberitaan-pemberitaan media sosial dan televisi.

“Mereka melihat Indonesia masih dikuasai oleh hal yang menakutkan buat mereka; pembantaian besar-besaran, pengejaran terhadap orang-orang. Dan mereka sendiri melihat keadaan di sini (Indonesia) secara dogmatis, artinya sama seperti melihat Indonesia seperti lima puluh tahun yang lalu. Dia tidak maju, ada yang tidak maju. Karena itu juga ada yang bilang, “Martin, saya gak mau kamu tulis karena caramu menulis saya tidak suka.” Saya jawab, “Ya, tentu saja saya tidak bisa menulis seperti dulu lagi.” Itu yang dia bayangkan, kan cara penulisan saya lima puluh tahun yang lalu. Kalau berbicara identitas ini menarik, sebab terminologi mereka juga itu masih terminologi lima puluh tahun yang lalu,” papar beliau menjelaskan kondisi traumatis para eksil yang diwawancarainya.

Perihal identitas dan wawancara dengan eksil tadi akhirnya ia memutuskan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita pendek begitu sampai di tanah air. Cerita pendek itu memang tidak sama persis dengan cerita yang disampaikan oleh narasumbernya. Tapi memiliki inti yang sama dan juga pesan yang sama untuk disampaikan kepada pembaca.

“Fakta literer itu berbeda dengan fakta dalam kehidupan nyata, meskipun fakta literer itu ada dalam kehidupan.”

“Totalitas saya dalam cerita tersebut orang harus cinta tanah air. Simbolnya apa? Tanah. Itu saya masukkan, itu tidak ada dalam fakta. Tanah yang dibungkus dengan kain, dan dia mati meninggalkan surat, itu ada. Itu faktual. Jadi dia lompat dan mati dan orang menemukan surat. Karena dia tahu polisi dan ambulans akan datang dan itu sudah dia siapkan betul,” beliau menjelaskan bagian akhir cerita tersebut.  

Mengenai simbol tanah dan semangat nasionalis, laki-laki yang mengajar Matakuliah Sastra di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini mengaku kalau ia menganggap dirinya sendiri tidak terlalu nasionalis, “Saya sendiri tidak juga menganggap diri saya nasionalis. Tidak juga. Sebab saya yakin kalau tidak ada kebenaran yang absolut.” Ia juga tidak pernah dengan sengaja menulis tentang identitas politik tersebut. Ia menulis bedasarkan perjalanan hidupnya dan apa yang ia baca.

“Apa yang saya tulis itu mengenai diri saya. Tidak mungkin saya menulis sesuatu yang tidak saya setuju. Kalau saya mengatakan sastra itu harus memihak kepada korban karena perjalanan kesusastraan memang begitu. Tidak bisa tidak. Tidak ada karya sastra besar yang tidak memihak kepada korban.”

Adapun mengenai ideologi, ia sendiri sesungguhnya lebih cenderung setuju kepada sosialisme. Meskipun banyak juga yang harus dikritik dari ideologi tersebut. Baginya ada yang lebih penting dari sekadar ‘apakah saya seorang Indonesia atau bukan’. Ia lebih memilih modal dipegang oleh pemerintah. Bahwa perekonomian tidak menjadi kreatif itu sebagai resiko. Pada akhirnya kita harus memilih antara kreativitas enterpreneur yang terkekang dengan keadilan sosial ekonomi yang lebih baik. Paling tidak dari segi gagasan soal kesenjangan sosial.

“Tidak penting sistem pemerintahan suatu negara, yang penting adalah jaminan sosial itu ada.”

Social welfare itu ada. Bahwa dia collapse artinya tidak membuat orang kreatif, itu betul. Di Belanda orang-orang eksil itu mati karena tidak bisa bahasa Belanda dengan baik, tidak bisa menulis dengan bahasa Belanda dengan baik, tidak bisa mengikuti perkembangan politik dengan baik, karena tidak ada urusan. Kebutuhan mereka terpenuhi. Cukup makan dan kesehatan cukup dan terjamin.” Kemudian beliau membandingkan dengan eksil-eksil di Prancis yang lebih hidup. Mereka berbaur dengan aktivis-aktivis lokal.

Ada yang mengatakan bahwa eksil-eksil dan aktivis-aktivis Indonesia di Belanda tidak seperti pada zamannya Hatta atau yang lain ketika Indonesia belum merdeka. Karena mereka belajar ekonomi, politik, dan budaya. Sedangkan eksil yang sekarang itu mereka tidak belajar sosial politik tapi belajar kedokteran, belajar kimia. Tetapi social walfare yang di Belanda itu memang tidak bedampak baik bagi eksilnya.

Mengenai identitas politik sosialisme juga beliau menunjukkan kekagumannya kepada beberapa pemimpin sosialis seperti Ho Chi Minh dan Fidel Castro. Meski demikian tokoh pemimpin inspiring menurutnya tetap tidak ideal. “Soekarno sebenarnya cukup ideal, cuma dia punya banyak kelemahan. Yang saya harapkan juga misalnya, Ho Chi Minh dan Castro. Ho Chi Minh mungkin ideal. Kalau Castro masih menunjukkan senjata. Ho Chi Minh juga tapi dia tidak tunjukkan. Tapi sekarang yang menginspirasi rakyat kita, kan tersangka yang sudah pakai jaket. Itu bagaimana ya, nilainya?” beliau tertawa getir. Baginya nilai kini sudah hancur. Itulah yang harus generasi muda hadapi saat ini. Sulit dipahami apa nanti orang bercita-cita menjadi koruptor, sebab kini profesi menjadi koruptor bukan lagi suatu aib. Mereka bisa bertebaran di mana saja tanpa rasa malu, melambaikan tangan seperti orang terkenal.

“Saya gak ngerti, bagaimana generasi muda sekarang melihat kenyataan seperti itu.” Identitas terjelas yang kita lihat di masa kini adalah bobroknya nilai-nilai, hukum yang tidak jelas dan tidak jalan, dan nurani yang tidak tertempa dengan baik. Semua itu adalah kesalahan masa lalu, Orde Baru. Yang paling jelas terlihat menurutnya adalah tidak ada lagi ruang diskusi seperti di zaman Soekarno. Di mana orang siap berdiskusi, setuju dan tidak setuju adalah hal yang lain, tapi orang akan mendapatkan sesuatu yang baru di dalam kepalanya setelah itu. Kini orang lebih cenderung menyerang daripada berdiskusi. Mencari pasukan yang setuju dengan yang setuju dan menjatuhkan yang tidak setuju dengan cara-cara yang keji.

“Mungkin anak-anak dilarang berdiskusi dengan orang tua mereka. Ini jelas kesalahan pendidikan. Sehingga tidak membebaskan orang untuk mengeluarkan pendapat. Dan ke sininya justru terlalu over, sedikit-sedikit berseru kebebasan berpendapat.”

Terkait dengan pendidikan, Martin Aleida juga khawatir pada generasi sekarang yang hanya sekadar ikut-ikutan tanpa mengerti dan menelaah lebih dalam. Sebagai contoh sentimen anti-komunisme di Indonesia yang sangat kuat. Tapi bukan berdasarkan kesadaran melainkan sekadar ikut-ikutan saja. Sedikit sekali orang yang betul-betul anti. “Apa bahayanya komunisme? Sangat sedikit. Mungkin kalau dijelaskan dengan sistemnya dia justru setuju. Tapi dia gak ngerti. Pokoknya yang dia tahu itu komunisme itu atheisme. Itu yang keliru, itu yang sulit. Jadi betapa bahayanya suatu masyarakat bergerak dengan keadaan seperti itu. Dia ikut bergerak tapi dia tidak mengerti gerakan ini untuk apa, tujuannya apa, akibatnya apa. Tapi siapa yang bisa menyadarkan? Kita seharusnya mulai dengan pendidikan dasar memahami hal-hal seperti ini,” paparnya panjang lebar dengan penuh semangat dan rasa greget yang sulit saya gambarkan. Perasaan seperti itu rasanya sudah berkarat sangat lama dibenaknya. Saya tersenyum-senyum mendengar penjelasannya, ketika sekali lagi saya memutar rekaman hasil wawancaranya.

Martin Aleida yang saya kenal sebenarnya sosok yang romantis. Jika ia bercerita begitu melibatkan emosi sehingga terkadang saya turut larut dalam cerita-cerita beliau, baik penglamannya maupun cerita-cerita karyanya. Jika beliau terlibat dengan cerita yang sedang ditulisnya, pikirannya hanya terfokus di dunia itu. Tidak jarang menghampiri meja saya jika bukan menyomot pepaya atau wortel saya, maka saya akan dihujani tanda tanya, “Tumpah darah itu penulisannya disambung atau dipisah, ya?” atau “Penulisan yang benar itu bedug atau beduk, ya?” Jika ia sudah menulis menjadi sangat sulit untuk diganggu, sehingga terpaksa wawancara ini dilakukan di rumahnya bersama sang fotografer.

Sebagai seorang laki-laki yang sudah berusia senja, berpostur tubuh tinggi, tegap, dan ideal, tidak gemuk dan tidak kurus tentu akan mengalihkan pikiran kita perihal usia beliau yang sebentar lagi menginjak 74 tahun. Penulis Malam Kelabu, Ilyana, dan Aku (1998), Perempuan Depan Kaca (2000), Leontin Dewangga (2003), Dendam Perempuan (2006), Langit Pertama Langit Kedua (2013) ini memang sangat peduli dan menjaga kesehatan tubuhnya. Tidak merokok, lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan segar. Berolahraga ringan sangat membantu tubuhnya tetap terlihat bugar, jalan kaki dan bersepeda. Selain itu di usainya yang tidak lagi muda beliau memiliki jadwal renang. “Saya berenang setiap hari senin. Beberapa tahun lalu saya kecelakaan, kaki saya butuh penyembuhan. Selain susu, berenang dapat mempercepat pemulihan tulang kaki saya.”

Selain buku kumpulan cerpen, Martin Aleida juga menghasilkan novelet Layang-Layang Itu Tidak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi (1999), novel Jamangilak Tak Pernah Menangis (2003), dan Mati Baik-Baik Kawan (2009). Bicara tentang karya-karya yang disukainya dan menginspirasinya perihal ideologi beliau menyebut karya Adolf Hitler.

Mein Kampf sebagai teks itu oke, itu kan pikiran Hitler, kan? Tidak apa-apa. Tapi dia tidak besar. Tidak sebesar Ulysses atau The Old Man and The Sea. Takdir sastra yang besar adalah selalu memihak kepada korban.”

The Old Man and The Sea Ernest Hemingway adalah karya yang dibacanya berkali-kali. “Saya suka ketika dia tua dia berani mempertahankan dirinya dengan berkelahi dengan hiu yang mau memakan ikannya. Itu luar biasa. Dia juga mengatakan bahwa “You can destroy man, but you can’t defeat them.” Wah, itu luar biasa!” Seorang kritikus di Prancis mengatakan novel itu ditulis oleh Hemingway untuk mengatakan bahwa itulah dirinya.

Ia juga menceritakan pengetahuannya tentang novel tipis itu bahwa novel itu awalnya diminta oleh Majalah Look. Itu sekitar tahun 1952-an. Look minta Hemingway menulis mengenai kehidupan di laut. Tapi kepanjangan. Hemingway merevisinya dan membacanya lebih dari 40 kali. “Yang saya suka, dia juga pemancing yang hebat. Dia sering bertanding adu pancing dengan Castro. Tapi dia selalu kalah.” Ia tertawa dengan renyah. Rasanya memang menyenangkan sekali mengetahui hal terdalam dari orang-orang yang kita sukai dan menginspirasi. “Setting novel itu di Kuba, Pantai Havana. Dan dia sudah berantem dengan hiu itu di sana,” lanjutnya lagi senang, seakan-akan mereka pernah bertemu dan bertukar pengalaman yang lucu.

Kemudian ada satu cerita pendek lagi yang  ia sukai yang ditulis oleh Maxim Gorky, judulnya Tunnel (Terowongan). Ia mengira Gorky ikut terlibat dalam pembuatan terowongan yang berada di Italia bagian utara itu. Terowongan itu dibuat sekitar tahun 1930-an dan Gorky berhasil melukiskan penggalian dua kutub terowongan itu dengan sangat memukau.

Selain sebentar lagi ia akan meluncurkan buku “Tanah Air yang Hilang” yang merupakan hasil riset dan wawancaranya dengan para eksil selama tiga bulan di Eropa 2016 lalu. Ia juga berniat untuk membuat semacam tulisan di usia senjanya, tapi belum diketahui bentuknya seperti apa. Namun ia tidak pernah lupa pada misi sastra yang membebaskan. Sebagaimana halnya ketika ia berada dalam kebingungan setelah dibebaskan dari tahanan, tanpa pekerjaan yang pasti, yang dirinya tahu tidak ada kemampuan lain yang bisa ia lakukan kecuali menulis. Maka di saat itulah ia bulatkan tekad untuk menulis tentang kebenaran, apa yang diketahuinya, dan dari apa yang telah dibacanya.

Nurlan adalah nama aslinya, nama yang digantinya tanpa persetujuan kedua orangtuanya pada saat itu juga. Mengobati segala luka yang disebabkan sejarah kelam. Martin Aleida dipilihnya sebagai nama pena. Dengan nama itulah ia berjuang.  

Dan sejak itu hingga kini, Martin Aleida hidup dalam pembebasannya. (*)

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Ulasan

02 Agustus 2017

Wajah Indonesia dalam Cerpen Kita

Teguh Afandi

Potret

09 Juni 2017

Pesan Cinta dari Hanna

Wa Ode Wulan Ratna



Nama


Isi Komentar