back-button

Seperti Sir Arthur Conan Doyle yang terkenal dengan Sherlock Holmes, Agatha Christie terkenal dengan tokoh detektif nyentrik yang diciptakannya, Hercule Poirot, seorang mantan polisi Belgia yang mendewakan metode dan kerapian. Ide untuk menciptakan tokoh detektif Belgia ini datang dari lingkungan tempat tinggalnya, kota Torquay di pesisir barat daya Inggris. Saat itu, pada 1916, Perang Dunia I sedang berkecamuk, invasi Jerman ke Belgia menyebabkan penduduknya mencari keselamatan di negara-negara tetangga, terutama Inggris yang kedatangan lebih dari dua ratus ribu pengungsi Belgia. Mereka diterima dengan hangat oleh warga Inggris, termasuk oleh penduduk Torquay. “Ada berbagai macam pengungsi, mengapa tidak menciptakan tokoh polisi yang menjadi pengungsi?” tutur Christie dalam buku autobigrafinya berjudul An Autobiography.

Dalam novel pertama Christie, The Mysterious Affair At Styles (diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Misteri di Styles), kita bertemu Poirot yang saat itu tinggal bersama pengungsi Belgia lain di rumah kecil yang disediakan oleh korban yang terbunuh di kasus tersebut. Pakaiannya terlihat rapi dan bersih, namun kakinya pincang. Walaupun kondisinya tidak prima, namun Poirot dapat menunjukkan kecemerlangan otaknya dengan memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi dengan caranya sendiri yang tidak bisa ditebak.

Pada buku selanjutnya, Poirot sudah berada dalam keadaan yang lebih baik, dia tinggal sebuah flat di London, mengenakan setelan rapi, sepatu kulit bersih mengilat, topi bundar, dan, tentu saja, kumis hitam lebat. Jika menilai Poirot pasca-Styles dari penampilannya saja, pasti tidak ada yang menyangka bahwa sebenarnya dia adalah pengungsi yang terpaksa meninggalkan negaranya untuk menyelamatkan diri. Bahkan kalau menilai dari aksennya, banyak yang mengira dia orang Perancis yang sombong.

Poirot sendiri diceritakan sering memanfaatkan stereotip sebagai orang asing agar dirinya dianggap remeh oleh pelaku. Terlebih lagi karena dia bertubuh kecil dan sangat memedulikan penampilan, sifat yang dianggap tidak maskulin. Status Poirot sebagai orang luar juga membuatnya dipercaya menjadi tempat berbagi rahasia oleh orang-orang di sekitarnya sehingga memudahkannya mengumpulkan informasi. Namun, apakah hal yang sama akan terjadi kalau dia bukan orang berkulit putih dari Eropa?

Christie sering mendeskripsikan orang-orang Amerika sebagai persona yang naif dan “berbicara terlalu keras”, akan tetapi, konsepsi yang lebih negatif jatuh pada orang asing kulit berwarna pada novelnya. Mereka hampir selalu dicurigai melakukan kejahatan karena “berdarah panas” atau “liar”, meskipun jarang sekali mereka menjadi pelaku sebenarnya dari pembunuhan yang terjadi.

Keberadaan stereotip dan timbulnya asumsi-asumsi berdasarkan ras, penampilan, atau kelas kerap dimanfaatkan sebagai pengalih perhatian dalam kasus-kasus yang diciptakan Christie. Setelah tokoh-tokoh di dalam buku (juga pembaca) dibuat bersimpatik pada seorang gadis manis atau pria bangsawan, bisa jadi di akhir kasus Poirot tiba-tiba menunjuk mereka sebagai pelakunya. Sebaliknya, karakter yang bersikap mencurigakan dan dituduh melakukan kejahatan karena miskin atau memiliki catatan kriminal, pada akhirnya sering terbukti tidak bersalah. Dengan melemparkan kecurigaan pada orang luar, Christie membuat “korban”-nya lalai mengawasi teman atau keluarga mereka sendiri. Sementara itu, Poirot ditampilkan lebih unggul dari pelaku dan orang lain karena dia bisa memisahkan fakta dengan asumsi belaka. Singkatnya, kalau berada dalam buku Christie dan jatuh dalam perangkap stereotip, jangankan menjadi pahlawan cerita, Anda akan berada dalam bahaya.

Sampai saat ini, novel-novel Christie masih relevan sebagai cerminan keadaan masyarakat Inggris yang menyimpan ketakutan terhadap pluralisme, terutama ras lain. Sewaktu Agatha Christie mulai menulis, bangsa Inggris masih mempraktikkan kolonialisme dan mendominasi perekonomian global sehingga mereka memandang rendah bangsa lain, terutama yang menjadi wilayah kekuasaannya. Telekomunikasi belum banyak berkembang sehingga informasi mengenai bangsa lain bersumber dari cerita dan gosip. Kedua hal di atas menjadi alasan mengapa xenofobia dan rasisme dianggap “wajar” pada masa itu. Akan tetapi jika alasan-alasan tersebut sudah terhapuskan, apakah secara otomatis xenofobia akan menghilang?

Di zaman modern, kolonialisme sudah tiada. Jarak antarbangsa pun semakin berkurang dengan globalisasi. Namun rasisme dan xenofobia yang berujung pada diskriminasi masih sering ditemui. Kubu yang mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa bisa menang karena masih banyak orang-orang Inggris yang takut pada imigran dan orang asing. Dahulu, Inggris menerima pengungsi Belgia dengan tangan terbuka sebagai bagian dari propaganda Perang Dunia I, namun sekarang mereka menolak pengungsi Suriah. Ketakutan yang berlebihan menyebabkan mereka berpaling muka dari orang-orang yang membutuhkan.

Di Indonesia, sebagian dari kita pernah mengalami Kerusuhan 1998. Bahkan hingga kini, kaum minoritas masih merasakan pahitnya diskriminasi. Prasangka negatif masih mewarnai reaksi kita pada kelompok-kelompok yang berbeda. Prasangka tersebut berasal ide yang ditanamkan sejak kecil oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Setelah dewasa, jarang sekali ada yang berpikiran untuk menantang ide yang sudah tertanam jauh ini, sehingga perspektif kita menyempit dan menjadi sulit untuk menghindari jebakan stereotip.

Salah satu cara untuk memerangi stereotip dan mengingatkan masyarakat agar tidak tertipu oleh penampilan adalah melalui media hiburan seperti buku, film, dan televisi. Sebagai sarana perubahan, media hiburan dapat memperkenalkan konten berisi representasi yang melawan stereotip. Apalagi, informasi yang disebarkan melalui media hiburan lebih mudah untuk dicerna oleh anak-anak. Karena itu, diversifikasi dalam media sangatlah penting, baik dalam segi ras, agama, gender, seksualitas, maupun kondisi fisik dan mental.

Kita membutuhkan lebih banyak golongan minoritas muncul sebagai tokoh utama–tidak sekadar tokoh figuran–tanpa harus menjadikan identitas mereka sebagai pusat cerita. Tampilkan lebih banyak karakter minoritas yang memiliki kepribadian kompleks. Ceritakan mengenai orang-orang yang terlihat berbeda namun sebenarnya sama dengan kita. Ajarkan generasi muda menilai setiap individu secara objektif, bukan berdasarkan golongannya. Jangan sampai kita terlalu cepat menuduh seorang pendatang sebagai pencuri penghasilan, padahal sesungguhnya dia adalah detektif brilian.

*Dion Muflia adalah seorang penikmat fiksi kelahiran Solo dan salah satu pengelola Sel-Sel Kelabu, komunitas untuk pengemar karya Agatha Christie di Indonesia. Saat ini sedang berkutat dengan penerjemahan buku dan eskapisme dari kondisi politik global.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Esai

02 Agustus 2017

Fiksi Klasik dan Gambaran Medis Masa Lalu

Busyra*

Ulasan

04 Agustus 2017

Kaum Hippie dan Pertunjukan Identitas

Ratih Dwi Astuti*

Esai

21 Juli 2017

Yin dan Yang Karya-Karya dari Wattpad

Natanya Aloifolia Munthe*



Nama


Isi Komentar