back-button

Manusia dan identitas tidak dapat dipisahkan. Salah satu makna identitas adalah apa yang melekat pada diri kita, ciri khas yang menunjukkan siapa kita, dari mana asal kita, apa status kita, dan, sering kali, termasuk ke dalam golongan apa kita. Identitas secara tersamar dapat berupa kepercayaan yang dianut, pakaian yang dikenakan, bahasa yang digunakan, tingkah laku atau perilaku, maupun gaya hidup.

Emma Cline menyodorkan kisah yang cukup unik dalam karya fiksi debutnya, The Girls (diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Gadis-Gadis Misterius), berkenaan dengan krisis identitas akibat kegelisahan dan kejemuan masa remaja yang lantas bersinggungan dengan budaya lain yang mempertontonkan identitas nan beda tapi nyata.

Cerita baru benar-benar bergulir pada 1969 dengan kehidupan Evie Boyd, seorang remaja berusia empat belas tahun, yang terkesan tidak menyenangkan: pertemanan yang hanya direkatkan rutinitas, rasa suka bertepuk sebelah tangan terhadap kakak sang sahabat, keluarga kaya yang tidak harmonis hingga tercerai-berai. Sampai suatu saat diam-diam muncul dalam diri Evie perasaan ingin memberontak, ingin merambah sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak menjemukan. Perasaan ini semakin kuat ketika tanpa sengaja ia melihat segerombolan gadis aneh dan misterius di taman, yang tampak dipimpin oleh seorang gadis berambut hitam dan lebih tua dari Evie sendiri. Mereka berpakaian kumal, memakai cincin-cincin murahan, terlihat tidak peduli dengan kehadiran orang sekitar (si gadis berambut hitam sempat menurunkan leher gaunnya hingga memperlihatkan sebelah payudara), dan sangat dekat dengan satu sama lain bak keluarga. Yang membuat Evie lebih tercengang adalah tatkala mereka membongkar tempat sampah di luar sebuah restoran dan mengambil sisa-sisa makanan yang “sekiranya masih bisa dimakan.” Bagaimana mungkin ada orang yang mengambil makanan yang sudah dibuang ke tempat sampah? Kecuali dia seorang pengemis. Tetapi gadis-gadis itu bukanlah pengemis.

Di tengah kepenatan Evie menghadapi sang ibu yang berusaha keras bangkit dari keterpurukan setelah bercerai dan mencari pendamping baru (sampai-sampai mengabaikan perasaan putrinya sendiri), Evie akhirnya berbuat nekat: mendekati si gadis berambut hitam, yang kemudian diketahuinya bernama Suzanne, dan memasuki lingkaran gadis-gadis hippie yang tinggal secara komunal di peternakan bobrok di sebuah bukit di Petaluma.

Di sana Evie benar-benar menemukan apa yang ia cari, yaitu sesuatu yang tidak lazim baginya: kumpulan orang (kebanyakan gadis) yang tinggal bersama tanpa ikatan, anak-anak yang entah bagaimana statusnya, pakaian kotor dan seadanya, rumah yang hampir tanpa perabotan, ganja yang dikonsumsi melebihi asupan makanan, cinta yang diumbar secara bebas, serta seorang pemimpin bernama Russell yang dipuja-puja.

Bagi Evie yang bosan dan lelah dengan kehidupannya, semua itu tampak mewah dan menarik luar biasa. Selama dua bulan, ia pun lebih sering tinggal dan menghabiskan waktu di peternakan dan menjadi bagian dari mereka, menjadi seperti mereka. Sampai suatu rencana kekerasan yang tak disadarinya mendorongnya keluar dan melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam Gadis-Gadis Misterius, Emma Cline secara lihai dan memikat menangkap serta menggambarkan karakteristik yang merupakan identitas kaum hippie di Amerika Serikat, setidaknya mereka yang tinggal di California Utara. Hidup di peternakan di bukit—dengan rumah yang nyaris kosong, duduk beralaskan tanah, anak-anak dibiarkan bermain di kolam—sedikit banyak merepresentasikan prinsip kembali-ke-alam yang mereka pegang. Begitu pula dengan pola hidup bersama dalam satu kelompok tanpa status apa pun yang menunjukkan praktik communal living. Hal lain yang dapat mengidentifikasi kelompok tersebut adalah penggunaan obat-obatan seperti LSD (Lysergic acid diethylamide, biasa disebut acid) serta ganja secara sembarangan dan rekreasional, juga penerapan free love (cinta yang bebas) yang kemudian menjadi cikal bakal free sex (seks bebas).

Cline juga secara mendetail menambahkan bus sekolah yang dicat ulang sebagai kendaraan mereka. Hampir segala hal yang dapat kita identifikasikan dengan kaum hippie tersaji secara samar tetapi juga gamblang di saat yang bersamaan, digambarkan dari sudut pandang Evie yang sarat decak kagum akan hal-hal yang tidak konvensional. Cline bahkan sampai memanfaatkan pembunuhan yang dilakukan Charles Manson, yang merusak nilai-nilai perdamaian dan antipeperangan kaum hippie dengan tindakan kriminalnya, sebagai inspirasi aksi bagi Russell dan kelompoknya. Atau, bisa jadi, Cline memang sengaja menceritakan kisah nyata ini dalam bentuk serta dengan sudut pandang yang berlainan, meskipun kisah tersebut tidak menjadi fokus utama narasinya.

Namun, selain penggambaran kaum hippie yang menunjukkan bagaimana bentuk dari identitas diri mereka, Emma Cline juga memperlihatkan bagaimana tokoh Evie Boyd mengalami krisis identitas akibat kegelisahan dan kejenuhan yang dialaminya. Sebagai remaja yang masih terombang-ambing dalam pencarian jati diri, serta terkoyak akibat perceraian orangtua, Evie mencari sesuatu yang dapat melegakan hatinya, suatu tempat di mana ia dapat melepaskan beban. Kebebasan gaya hidup yang ditawarkan kaum hippie, yang bahkan untuk mendapatkan sesuatu mereka hanya tinggal “mengambilnya” saja, mengiming-imingi Evie janji akan kehidupan yang lepas dan tanpa beban: beban dari sekolah yang monoton, ibu yang menekan, persahabatan yang lekang.

Akan tetapi, jika dilihat lebih dekat, meski telah memilih bersama kaum hippie, Evie tetap tidak terlihat seperti bagian dari mereka. Ia juga tidak dapat sepenuhnya berpikir sebagaimana mereka berpikir, dan terkesan asing berada di tengah-tengah mereka. Seolah-olah Cline ingin menunjukkan bahwa mengadopsi atribut tertentu dan bergabung dalam kelompok tertentu bisa jadi dapat memberikan identitas tertentu kepada diri kita, tetapi bisa jadi juga tidak. Bila atribut-atribut tersebut tidak benar-benar melekat pada diri kita, maka kita belum tentu akan menjadi seperti orang-orang yang memiliki identitas tersebut. Layaknya orang yang mahir berbahasa Inggris belum tentu berasal dari negara berbahasa Inggris, atau orang yang berkeyakinan tertentu belum pasti terlahir di negara asal keyakinan tersebut.

Gadis-Gadis Misterius karya Emma Cline seakan hendak membuktikan bahwa identitas diri merupakan hal yang pelik. Ini bukan sekadar perkara atribut-atribut yang dimiliki atau gaya hidup yang dijalani. Bukan pula semata soal ingin tidaknya kita merengkuh ciri khas dan gaya hidup tersebut. Seperti karakter Evie yang sangat cinta kebebasan tapi tak pernah bisa sepenuhnya menjadi hippie, atau karakter Russell yang justru mencemari prinsip cinta damai yang dipegang oleh kaumnya sendiri. Identitas bisa dibilang sesuatu yang cair, layaknya karakter manusia yang tidak melulu hitam dan putih.

The Girls 'Gadis-Gadis Misterius'
Emma Cline
Gramedia Pustaka Utama
2016

*Ratih Dwi Astuti adalah seorang penerjemah dan narablog buku.
 


Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Hippie

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_hippie_movement

http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Manson

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Ulasan

28 Juni 2017

Then & Now: Kisah Cinta Dua Paruh

Dion Yulianto*

Ulasan

13 Juni 2017

Suara yang Diteriakkan The Hate U Give

Abduraafi Andrian

Esai

02 Agustus 2017

Fiksi Klasik dan Gambaran Medis Masa Lalu

Busyra*



Nama


Isi Komentar