back-button

Ada saja anekdot yang menyadarkan kita bahwa bangsa kita belum menghargai sejarah musiknya sendiri. Piringan hitam langka koleksi Radio Republik Indonesia, yang semestinya dirawat dengan baik di kantor RRI Pusat, sering ‘terdampar’ secara ajaib di toko-toko loak Jalan Surabaya. Bank sentral kekayaan musik Indonesia, gedung label rekaman Lokananta di Solo, Jawa Tengah, berantakan arsipnya dan digambarkan oleh wartawan Fakhri Zakaria tengah “berserakan seperti cabe dan bawang di pasar.” Sementara, kita tepuk dada tatkala band asal Australia datang ke Indonesia memainkan lagu-lagu Dara Puspita, dan mengamuk ketika negara tetangga ‘mengklaim’ musik tradisional kita sebagai musik tradisional mereka.

Anomali-anomali kecil ini tidak menyurutkan langkah Henk Madrotter. Pria asal Belanda ini tinggal di Bandung sejak tahun 1996, dan memulai kebiasaan mengoleksi musik Indonesia lama. Kini, rumahnya berisi ribuan koleksi kaset, piringan hitam, dan CD musik Indonesia lama.

Hal yang membedakan Henk dengan kolektor lainnya? Fakta bahwa ia mengunggah hampir semua musik yang ia koleksi dalam bentuk digital, dan menyebarluaskan musik tersebut secara gratis melalui blog-nya.

Berikut petikan obrolan kami dengan Henk tentang pengarsipan musik Indonesia, nasib musisi lama yang tak terurus, dan kenapa kebiasaan ‘kolektor asing’ mengoleksi musik lokal perlu disudahi.

 

----

Blog anda, Madrotter, berisi banyak rekaman musik Indonesia langka. Apa yang memicu ketertarikan anda pada musik Indonesia lama?

Saya pindah ke Indonesia di akhir tahun 1996, dan sekitar tahun 1998-1999 saya mulai jadi produser musik untuk beberapa kelompok hip hop di Bandung. Saat itulah saya terpikir untuk memproduksi lagu hip hop dengan sampling musik tradisional Sunda, dan saya mulai berburu musik Sunda lama. Saat itu, saya menemukan album dari penyanyi kliningan bernama Titim Fatimah, dan saya takjub. Semuanya mulai dari sana – saya mulai berkeliling dari satu lapak ke lapak lainnya, dan mengoleksi musik Indonesia lama.
 

[Salah satu kawan Madrotter di scene hip hop Bandung saat itu adalah seorang rapper muda bernama Ucok Homicide. Baca wawancara kami dengannya di tautan ini.]
 

Ketika saya mulai mengoleksi album-album Indonesia lama, sama sekali tidak ada yang mencari album tersebut. Musik Indonesia lama dianggap sampah. Pedagang sering bertanya pada saya, ‘Buat apa kamu beli semua ini?’

Vinyl band Indonesia yang langka dijual dengan harga Rp 5,000 – 10,000 saja. Untuk band yang punya nama seperti Dara Puspita, mungkin angkanya di kisaran Rp 25,000. Kadang, saya kangen juga masa-masa itu! [tertawa]

Sayangnya, sekarang banyak yang membeli rekaman lama ini supaya bisa dijual lagi dengan harga sangat tinggi di Internet, bukan karena mereka memang cinta musik dan peduli dengan musik.

 

Banyak kolektor ogah berbagi album-album yang mereka miliki. Anda malah mengunggah versi mp3 semua album anda secara gratis di blog anda. Mengapa?

Sampai sekarang, saya masih mengagumi Titim Fatimah. Tapi, ketika saya bertanya pada musisi lain tentang dia, ternyata dia sudah dilupakan, apalagi oleh anak muda. Pada masanya, dia musisi perempuan yang penting. Pada tahun 1950-an, dia berani menyanyikan musik sinden yang membahas berbagai krisis dan gejolak politik yang dihadapi Indonesia. Kalau dia datang ke suatu kota untuk konser, bisa terjadi kerusuhan dan huru-hara – dan semua ini terjadi di Indonesia bertahun-tahun sebelum dunia mengenal fenomena Beatlemania. Bahkan, Soekarno sering mengundangnya ke Istana Negara di Bogor untuk menghibur tamu-tamu negara.

Saya juga harus angkat topi pada Ellya Khadam dan Titiek Puspa – mereka juga seniman luar biasa yang mendobrak batas bagi perempuan di dunia musik. Namun, Titim adalah pionir. Dan saya sedih sekali saat tahu bahwa musik dan pengaruhnya telah dilupakan. Rupanya, banyak musik Indonesia yang penting juga dilupakan oleh kebanyakan orang.
 

[Kami juga sepakat bahwa Ellya Khadam adalah pionir. Baca ulasan kami tentang karier sang legenda Dangdut, dan bagaimana ia mendobrak batas bagi perempuan di musik Dangdut.]
 

 

Saat itu, saya sudah memulai blog tentang hip hop Indonesia. Jadi, saya pikir tidak ada salahnya saya mulai menulis juga tentang musik-musik Indonesia lama yang saya temukan, dan berbagi musik terlupakan ini dengan orang lain. Saya mau semua orang tahu betapa kerennya musik Indonesia di tahun 1950’an hingga 1980’an.

 

Anda tidak takut tersandung kasus hak cipta?

Jika ada ahli waris atau pemegang hak cipta resmi lagu tersebut yang protes, saya pasti menurunkan tautan lagu mereka di blog saya. Tapi, sejauh ini saya tidak pernah mendapat reaksi negatif dari seniman Indonesia manapun. Sebaliknya, saya mendapat pesan pribadi dan ucapan terima kasih dari keluarga penyanyi Charles Hutagalung, dan juga dari salah satu anak dari pemain drum Kapsean’s Group. Mereka senang karena musik yang dimainkan orang tua, Kakek, dan Nenek mereka bisa diperkenalkan ke pendengar dari seluruh dunia. Saya juga mendapat pesan dukungan dari Indra Lesmana, yang pernah berterimakasih atas semua musik tradisional Sunda yang saya unggah, dan dari teman dan mentor saya, Prof. Andrew Weintraub.
 

[Andrew Weintraub adalah Profesor Musik asal Amerika Serikat yang dikenal karena penelitiannya yang mendalam tentang musik Dangdut. Baca wawancara kami dengannya di sini.]
 

 

Terlepas dari persoalan itu, sebenarnya rata-rata musisi di tahun 1950’an hingga 1980’an tidak memiliki hak apapun. Hampir semuanya bekerja atas dasar ‘kekeluargaan’, dengan kesepakatan kerja yang sangat timpang dan merugikan mereka. Mereka mendapat upah untuk menyelesaikan satu album, dan setelah itu tidak ada royalti. Atau, label mereka akan membelikan mobil – barang mewah pada zamannya, dan selesai. Hanya musisi tenar yang bisa hidup dari musik, sisanya harus bekerja banting tulang dan hidup susah.

Saya kenal banyak musisi senior yang pernah terkenal pada masanya, namun meninggal atau masih hidup dalam keadaan miskin. Misalnya H. Dariyah, seorang maestro musik tarling dan tayuban yang sangat dihormati pada masanya. Beliau merekam ratusan lagu semasa ia hidup. Ketika ia tua dan sakit, ia dan suaminya harus menjual semua harta benda, bahkan pakaian dan perhiasannya. Semua harta mereka ludes untuk membiayai perawatan bu Dariyah di Rumah Sakit, dan beliau tetap meninggal dunia. Suaminya masih hidup sampai sekarang. Kisah seperti ini banyak, dan semuanya miris.

 

Apakah mungkin musisi-musisi hebat ini terlupakan karena generasi muda tak tahu harus mengakses karya-karya ini di mana? Anda bilang H. Dariyah merekam ratusan lagu, misalnya, namun saya yakin banyak lagu ini sudah hilang entah ke mana.

Sebenarnya, saya sangat tidak suka praktik penjualan musik Indonesia langka ke kolektor asing. Patut diakui, praktik ini membuat Indonesia kehilangan warisan sejarahnya sendiri.

Saya kenal seorang kolektor Perancis yang pernah tinggal di sini dan mengoleksi 10-15 ribu kaset Sunda langka. Ketika ia pulang kampung ke Perancis, semua koleksi ini ia bawa dan hilang selama-lamanya dari Indonesia. Saya juga kenal seorang kolektor asal Jerman yang membawa 10 ribu kaset Sunda lama ke Eropa, dan ada banyak sekali cerita seperti ini. Hampir tidak ada warisan budaya yang ‘tersisa’ bagi orang Indonesia itu sendiri. Kalaupun ada, harganya sangat tinggi, sehingga hanya orang dari kelas sosial tertentu yang bisa menikmatinya. Ini mengkhawatirkan.

Saya pernah berdebat dengan seorang pedagang musik lama di Blok M, Jakarta. Orang ini terang-terangan bilang pada saya, “Saya tidak peduli tentang budaya Indonesia, saya cuma peduli tentang uang!” Saat itu, saya diam. Saya paham semua orang perlu menyambung hidup, tapi sikapnya tetap mengecewakan untuk saya.
 

[Simak ulasan kami tentang buku #GilaVinyl karya Wahyu 'Acum' Nugroho, dan apakah fenomena kolektor musik di Indonesia patut disyukuri atau diwaspadai.]
 

Saya pun mawas diri bahwa saya juga kolektor asing. Namun, saya sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Indonesia, dan saya sama sekali tidak berencana tinggal di luar negeri. Saya pun bisa menjamin, koleksi saya akan tetap ada di Indonesia. Sudah banyak kolektor luar negeri yang meminta saya menemani mereka berburu vinyl di Indonesia, tapi saya selalu menolak.

Tentu, ada pengecualian. Banyak kolektor luar negeri yang melakukan kerja pengarsipan yang baik – misalnya Jason Connoy dari Strawberry Rain Records di Kanada dan Miles Cleret dari Soundway Records di Inggris. Saya sudah pernah mengobrol dengan Miles, dan saya menghormati dia. Miles menghabiskan waktu bertahun-tahun di berbagai penjuru Afrika untuk meneliti sejarah musik mereka, dan ia sepakat dengan saya.

Situasi yang terjadi di Indonesia terjadi juga di negara-negara lain, terutama di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Koleksi musik lama dari negara-negara ini sudah dihabisi oleh kolektor asing, dan mendekam di koleksi pribadi. Banyak yang tidak akan pernah dimainkan lagi. Ini situasi yang gila, dan saya tidak peduli mereka tersinggung atau tidak.

Bahkan kekhawatiran soal fenomena ini sudah merambah ke dunia akademia. Ada ribuan musik Indonesia langka yang disimpan di Universitas Leiden, Belanda. Dan para peneliti yang membawa musik itu ke luar negeri sangat menyesali perbuatan mereka. Warisan budaya Indonesia malah dibawa kabur ke negeri orang. Bagi saya, ini tidak masuk akal.

 

Apakah menurut anda pemerintah atau industri musik di Indonesia sudah berusaha sebisa mungkin untuk merawat warisan budaya kita di ranah musik? Menurut anda, apa yang perlu dilakukan?

Menurut saya, pemerintah belum berbuat maksimal untuk mengarsipkan sejarah musik Indonesia itu sendiri, walau kesadaran dari mereka tentang sejarah mulai tumbuh perlahan-lahan. Tapi, lupakanlah label-label rekaman besar yang masih tersisa. Mereka hanya tertarik terlibat jika ada uang.

Perhatikan apa yang dilakukan oleh label-label kecil yang didirikan oleh pecinta musik sejati. Misalnya, Rockpod Records yang merilis ulang album Ghede Chokra’s dari Shark Move, atau Bravo Music yang merilis ulang album-album dari grup legendaris Super Kid dan Golden Wing. Inisiatif serupa juga mulai bermunculan di seluruh Indonesia, walau skalanya mungkin masih kecil. Masih ada harapan.
 

[Kami mengulas album legendaris Ghede Chokra's di sini.]
 

 

Namun, saya khawatir karena belum ada upaya serius untuk mengarsipkan musik tradisional yang mulai langka. Kebanyakan inisiatif independen seperti ini fokus pada musik rock dan pop – walau sebenarnya ini sah-sah saja. Tapi, bagi saya musik tradisional inilah yang paling berisiko punah dan wajib diarsipkan segera. Kebanyakan rekaman musik tradisional Betawi dan Sunda, misalnya, direkam dalam bentuk kaset. Percayalah, kebanyakan kaset itu sudah dibawa lari ke negeri orang, membusuk di gudang antah berantah di Indonesia, atau terbengkalai di koleksi pribadi seorang kolektor yang tak peduli.

Saat ini, saya sedang berjejaring dengan beberapa musisi lama dan pecinta musik Indonesia untuk mengembangkan kerja pengarsipan yang lebih luas, termasuk untuk menyejahterakan para musisi era lama yang kini hidup sengsara. Namun, saat ini saya belum merasa siap bercerita banyak soal proyek tersebut. Semoga dalam waktu dekat, ada perkembangan yang menggembirakan.

Saya kagum dengan Irama Nusantara – kerja pengarsipan mereka patut diacungi jempol. Mereka menyediakan streaming musik Indonesia lama, walau dengan kualitas suara yang agak kurang bagi saya pribadi. Saya pernah membaca bahwa mereka melakukan streaming untuk menghormati hak-hak para musisi.

Terus terang, pernyataan ini agak membingungkan bagi saya karena secara sejarah, musisi lama ini tidak pernah memiliki hak apapun. Semua hak dipegang oleh label rekaman mereka yang kaya raya. Namun, bukan berarti saya tidak mendukung mereka. Kerja seperti yang mereka lakukan harus terus ada di ranah musik Indonesia.

 

Anda bisa mengunduh semua koleksi Madrotter yang telah diunggah di tautan ini.

BACA JUGA: "Jalan Terjal Pengarsipan Musik Indonesia" - Feature mendalam kami tentang upaya pengarsipan musik di Indonesia.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Esai

16 Desember 2016

Jalan Terjal Pengarsipan Musik Indonesia

Raka Ibrahim

Potret

15 Mei 2017

Bahaya Laten Herry Sutresna

Raka Ibrahim



Nama


Isi Komentar