back-button

Sebuah bunga rampai karya sastra pada akhirnya adalah sebuah hasil kanonisasi, hasil kuasa dan selera.

Seorang pebunga rampai (anthologist) berdasarkan wawasan terbaiknya menentukan apa-apa yang layak dipilih dan apa pula yang tidak layak dipilih dari sebuah khazanah sastra. Ia mengambil alih sesuatu dari khazanah yang luas: karya sastra pada masa tertentu, yang mewakili tema dan kecenderungan tertentu pula, dan mengumpulkannya menjadi satu himpunan yang khas. Ia memberikan pembaca hasil pilihannya, hasil citarasanya, dan hasil pilihan itulah yang mesti diperhitungkan, bukan yang lain.

Sang pebunga rampai akan membatasi keluasan dan keragaman khazanah sastra dengan pelbagai kriteria pemilihan. Kriteria pemilihan bisa diperdebatkan, sebagaimana hasil pilihan itu kemudian, tetapi dengan kriteria ini pula para penyusun itu akan lebih mudah bekerja. Yang masuk kriteria pemilihan akan diambil, yang tidak masuk akan disingkirkan. Mengapa sang penyusun memilih suatu karya, bukan karya lain, itulah wujud lain dari selera dan wawasannya. Semakin ia punya selera yang baik, mestinya akan semakin baik hasil pilihannya—atau sebaliknya.

Bagi pembaca, sebuah bunga rampai adalah peta yang bisa digunakan untuk menelusuri khazanah sastra—ia sebuah cara “pembacaan jauh” (distant reading). Yakni, membaca sebuah khazanah sastra berdasarkan hasil pembacaan orang lain. Memang, tidak semua segi dalam khazanah sastra yang luas ini mesti ditelusuri dan peta itu pulalah yang akan membantu pembaca menelusuri segi-segi yang dianggap perlu. Di luar peta yang dijadikan panduan, tentu saja masih ada segi lain yang tidak kalah berharga, tetapi itu tidak menjadi fokus perhatian sang peta. Jika ingin mencari rinci yang lebih lengkap dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh, seorang pembaca mesti menggunakan peta yang lebih banyak lagi.

Karena penyusunan peta ini berkaitan bukan semata-mata dengan karya sastra tetapi juga dengan pengarangnya, maka risiko penting yang mesti dihadapi oleh sang juru peta adalah penolakan seorang pengarang untuk dimasukkan ke dalam peta itu. Penolakan ini bisa saja karena ia tidak setuju dengan kriteria pemilihan sang pebunga rampai atau ia hendak menerbitkan karya itu dalam himpunan yang lain lagi, atau ia tidak cocok dengan kompensasi yang diberikan oleh penerbit bunga rampai itu. Selain selera penyusunnya, keterandalan sebuah bunga rampai sebenarnya juga ditentukan oleh hal terakhir ini.

Di Indonesia bunga rampai karya sastra sudah diterbitkan sejak awal abad kedua puluh, terutama oleh pengarang Cina Peranakan Tio Ie Soei (1915). Namun, yang disusun oleh Sutan Takdir Alisjahbana (Puisi Lama, Puisi Baru) dan H.B. Jassin (Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, Gema Tanah Air, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45) adalah bunga-bunga rampai sastra Indonesia yang penting dan ikut memberi inspirasi bagi penyusunan bunga-bunga rampai sastra berikutnya.

Misalnya, ketika Linus Suryadi A.G. merancang empat jilid bunga rampai puisi Indonesia modern berjudul Tonggak (1987), ia sebenarnya ia tengah mempertaruhkan wawasan dan seleranya terhadap puisi-puisi Indonesia modern, di luar apa yang telah dilakukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan H.B. Jassin. Atau kerja keras Satyagraha Hoerip memilih dan mengumpulkan cerita pendek (cerpen) Indonesia modern dalam empat jilid Cerita Pendek Indonesia (1984) adalah sebuah upaya kanonisasi cerpen yang belum ada tandingannya hingga beberapa dasawarsa kemudian. Begitu pula ketika Urlich E. Kratz menyusun Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (2000), ia tengah mengarahkan pembaca kepada warna-warni esai yang menurutnya layak menjadi acuan pembaca dalam memahami sejarah pemikiran dalam sastra Indonesia.

Ide utama penyusunan bunga rampai Antologi Cerpen Indonesia (ACI)/The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (LAISS) adalah bagaimana menampilkan panorama  terbaik cerpen/fiksi pendek Indonesia, yang paling lengkap dan paling representatif, agar pembaca mendapatkan gambaran yang kurang-lebih lengkap tentang cerpen/fiksi pendek Indonesia dalam seratus tahun pertama (1900-2000). Sebagai bunga rampai cerpen/fiksi pendek Indonesia yang paling mutakhir, ACI/LAISS berusaha mengakomodasi pelbagai bunga rampai serupa yang pernah ada, di samping para penyusunnya (John H. McGlynn, Zen Hae, Andy Fuller) menentukan sendiri kriteria pemilihan dan selera kepenyuntingan atas bahan-bahan yang tersedia.

Di dalamnya pembaca bisa menemukan bukan hanya aneka cerpen yang menunjukkan keunggulan keperajinan (craftsmanship) para pengarang Indonesia dari Zaman Bergerak hingga Zaman Milenial, tetapi juga bagaimana karya sastra, khususnya cerpen/fiksi pendek, berbicara tentang sesuatu, dari masa dan daerah tertentu. Katakanlah lewat bunga rampai ini pembaca mendapatkan gambaran tentang bagaimana kualitas literer 106 pengarang, tetapi juga bagaimana cerpen berbicara tentang banyak hal dengan berbagai cara, bagaimana cerpen Indonesia tumbuh bersama dengan kencenderungan yang ada dalam sastra dunia. Dan yang tak kalah penting, bagaimana bahasa Indonesia dari masa-masa yang berbeda itu ikut memengaruhi ekspresi literer masing-masing pengarang.

Karena LAISS/ACI ini adalah hasil sebuah pilihan, maka tantangan pertama yang kami hadapi adalah menentukan cerpen mana yang bisa masuk kriteria pemilihan kami, mana pula yang tidak. Tantangan ini akan kian menggoda jika kita berhadapan dengan para pengarang yang menulis cukup banyak cerpen yang bagus, sementara kami hanya bisa memilihnya satu saja. Prinsipnya, satu pengarang satu karya. Akhirnya, wawasan dan selera kami selaku penyunting itulah yang teramat menentukan. Ada perdebatan, tentu saja, tetapi selalu bermuara kepada pilihan yang kami anggap “paling baik” dan “mudah ditangani”.

Soal izin penerbitan adalah soal mudah-tidaknya menangani hasil pilihan kami. Setelah kami memilih, kami mesti mengupayakan izin penerbitan cerpen-cerpen itu dari pengarang dan ahli waris mereka. Ini penting untuk menghindari, misalnya, gugatan hukum dari pengarang atau ahli warisnya karena telah memuat karya mereka tanpa izin. Mungkin soal diizinkan atau tidak sebuah karya yang kami pilih itu biasa, tetapi juga masalah lain adalah menemukan kontak atau alamat keluarga atau ahli waris pengarang yang sudah meninggal. Makin lampau kematian pengarang itu, makin panjang jalan penelusuran yang mesti kami tempuh. Sejauh ini ada yang berhasil, ada pula yang masih terus diupayakan.

Demi segala yang ideal pada bunga rampai ini, masalah utama yang kami hadapi selaku penyunting dalam penyusunannya adalah arsip. Karena bunga rampai ini mencoba menjangkau masa terawal produksi cerpen Indonesia, kami mesti memastikan apakah pada awal abad ke-20 cerpen berbahasa Melayu sudah benar-benar ditulis pengarang di Hindia Belanda? Mana yang lebih dulu, puisi atau cerpen? Bagaimana mereka memulai menuliskannya? Media apa saja yang memuat cerpen-cerpen mereka? Apa saja yang mendukung perkembangan cerpen di masa awal ini? Bagaimana peran pengarang Cina Peranakan dan kaum pergerakan nasional dalam produksi cerpen di masa permulaan?

Kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan jawaban yang kami dapat sangatlah tergantung seberapa kaya arsip yang kami dapatkan. Sangat bisa jadi selaku penyunting kami mengandalkan arsip masing-masing. Kami juga memanfaatkan arsip perpusatakaan Yayasan Lontar. Namun, yang tak kalah luas dan menantang adalah arsip sastra yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin dan koleksi koran dan majalah lama di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Tanpa dua sumber koleksi ini, sulitlah mewujudkan dua jilid bunga rampai yang ketebalannya di atas 1.100 halaman ini.

Dengan mengandalkan arsip sebenarnya kita tengah mempertaruhkan sebuah kerja gila-gilaan orang-orang tertentu dalam mengawetkan ingatan kita tentang sastra Indonesia. Sosok penting di balik ini semua adalah H.B. Jassin, seorang dokumentator dan kritikus sastra Indonesia yang sudah bekerja sejak awal 1940-an. Kegigihan dan ketekunan H.B. Jassin dalam menyimpan karya-karya pengarang Indonesia membuat koleksi PDS berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini. Ia menyimpan bukan hanya karya-karya kreatif pengarang Indonesia, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan itu: surat, catatan pribadi, katabelece hingga undangan perkawinan. Tanpa kerja keras Paus Sastra itu, tidak mungkin kita mendapatkan kekayaan koleksi dokumentasi sastra yang paling banyak menjadi rujukan penulisan dan penelitian sastra Indonesia selama ini.

Namun, jika kita memeriksa secara teliti koleksi PDS H.B. Jassin sekarang ini, sebenarnya, kita tengah berada dalam sebuah bahaya besar. Banyak dari koleksinya yang rusak sebelum didigitalisasi—karena ketuaan usia kertasnya—beberapa buku dicuri, sejumlah halaman penting dari majalah sastra disobek oleh pembaca. Beberapa karya telah di-microfilm, namun masih lebih banyak yang dibiarkan menua dan hancur pelan-pelan. Hampir tidak ada upaya restorasi naskah sebagaimana yang dilakukan dengan koleksi naskah lama Perpustakaan Nasional. Koleksi buku dan majalah tua di Perpustakaan Nasional kini direstorasi secara bertahap sehingga bentuknya yang sudah rusak-grepes ditampilkan kembali dengan kemasan kertas yang rapi, kuat, dan aman dipegang.

Masalah yang dihadapi oleh PDS H.B. Jassin memang jauh lebih kompleks ketimbang Perpustakaan Nasional. Tengoklah masalah pengelolaan yang hingga kini belum tuntas—terutama tarik-menarik tanggung jawab pengelolaan antara Yayasan PDS H.B. Jassin dan Pemda DKI Jakarta. Termasuk di dalam soal ini adalah gedung yang lebih representatif untuk koleksi PDS H.B. Jassin. Gedung yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi untuk menampung koleksi dan melayani pengunjung yang datang. Sebab selama ini pusat dokumentasi sastra itu tidak hanya menjadi tempat riset dan membaca karya sastra, tetapi juga sejumlah acara yang berkaitan dengan sastra dan kebudayaan: diskusi, seminar, peluncuran buku, pementasan teater.

Namun, di luar semua masalah mahapenting itu yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana sikap kita terhadap sejarah. Orang Indonesia terkenal sebagai bangsa yang tidak menghargai sejarah. Situs-situs sejarah yang penting bisa dimusnahkan karena berbagai kepentingan, sementara yang ada dibiarkan terbengkalai dan hancur tanpa kepedulian. Karena itu, atas nama bangsa yang gampang lupa ini, yang trauma dan buta sejarah ini, Pemerintah Daerah DKI Jakarta mesti menempuh langkah yang lebih berani dan visioner dalam menyelamatkan PDS H.B. Jassin.

Pusat dokumentasi sastra itu mesti diperlakukan secara pantas dan beradab. Keberadaannya terlalu berharga untuk disia-siakan. Jika sebuah pusat dokumentasi sastra dirawat dengan baik, yang akan tertolong bukan hanya koleksinya, tetapi juga generasi mendatang. Juga penulis dan peneliti sastra luar negeri yang hendak mengetahui atau meneliti sastra Indonesia. Ke mana mereka akan mencari rujukan yang mahalengkap jika tidak ke PDS H.B. Jassin? Bahkan, jika mau, Pemda DKI Jakarta bisa menjadikan PDS H.B. Jassin sebagai situs tujuan wisata sastra yang terpenting di Jakarta.

Sekali lagi, tantangan menghadapi arsip tetaplah pada soal bagaimana kita memperlakukan arsip itu. Bagaimana kita merawatnya dan pada saat yang sama memperkaya dan memperbarui koleksinya dan memperluas keterjangkauannya. Semua itu memerlukan cinta yang gigih dan keras kepala kepada arsip, kepada khazanah kebudayaan tulisan bangsa kita, bukan kepada kebudayaan lisan semata. Untuk yang terakhir ini, saya kira orang Latin benar: Verba volant, scripta manent. Yang diucapkan akan lenyap, yang dituliskan akan abadi.

 

*Zen Hae, menulis puisi, cerpen, dan kritik sastra. Buku terbarunya adalah The Red Bowl and other Stories (2015), sebuah kumpulan cerpen edisi tigabahasa, yang diterbitkan untuk Frankfurt Book Fair 2015.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Ulasan

12 Juni 2017

Novel-Kitab-Suci, Ayat-Ayat Lupa, dan Ingatan-Ingatan Saya

*Niduparas Erlang



Nama


Isi Komentar