back-button

Mengkonsumsi budaya populer bukanlah sekadar upaya mencari kenikmatan, tapi juga usaha merumuskan identitas. Inilah yang dibicarakan dengan kritis sekaligus asyik dalam buku Identitas & Kebudayaan: Politik Budaya Layar Indonesia karya Ariel Heryanto, kini Profesor di Monash University, Australia. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh NUS Press pada tahun 2014. Versi terjemahan dalam bahasa Indonesia digarap dengan apik oleh kritikus film Eric Sasono.

Sejak awal, Ariel mengkhususkan bahasan identitas lewat budaya pop ini, khususnya film, pada kelas menengah muda perkotaan. Meskipun hanya merupakan bagian kecil dari total jumlah masyarakat Indonesia, kelas menengah muda perkotaan memiliki karakter yang cenderung seragam, yakni dari segi tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, selera kultural, pola konsumsi, serta ketertarikan terhadap persoalan luar negeri dan bangsa sendiri. Kombinasi dari berbagai karakter tersebut memudahkan produsen budaya populer untuk “bicara” kepada mereka.

Dalam buku ini, “yang pop” dimaknai sebagai “yang politis”. Orang tidak menonton film sekadar untuk membunuh waktu atau ngefans mati-matian kepada artis pemerannya. Sambil menonton, sesungguhnya orang memproyeksikan diri mereka ke dalam tontonannya. Inilah mengapa film seperti “Ayat-Ayat Cinta” sukses besar menarik kaum muda muslim, “.. karena inilah untuk pertama kalinya di layar lebar mereka menemukan representasi diri mereka, atau setidaknya citra seseorang yang mereka idamkan atau dambakan” (halaman 79-80).

Dalam film yang diangkat dari novel best-seller itu, sosok Fahri adalah gambaran ideal seorang muslim yang saleh tanpa harus berjenggot panjang dan bergamis lebar,  sosok pelajar yang cerdas tanpa kelihatan kuper, bahkan dalam saat bersamaan ditaksir tiga perempuan dan semuanya cantik. Fahri adalah jalan tengah menjadi muslim yang saleh tanpa harus ketinggalan zaman.

Formula ini terbukti masih ampuh sampai sekarang. Kalau Anda jalan-jalan di YouTube, ada berbagai kanal pembuat film yang menceritakan kisah Islami (biasanya seputar usaha mencari jodoh) dengan latar di kafe-kafe hit. Rupanya selain mengaji, para pemerannya yang berjilbab syar’i dan berbaju koko itu juga suka ngopi-ngopi.

“.. orang Indonesia yang tinggal di perkotaan berusaha untuk berakrobat dengan menggunakan tiga bola sekaligus: menjadi Muslim taat [..], menjadi warga negara yang terhormat [..], sekaligus menjadi anggota komunitas produsen dan konsumen global” (halaman 75-76).

Pertempuran sinematis mengenai wacana Islam hanyalah salah satu dari berbagai diskursus budaya layar yang dibicarakan dalam buku ini. Secara khusus, Ariel membagi analisisnya ke dalam dua bagian besar, yakni politik identitas dan kenikmatan (termasuk di dalamnya ledakan budaya bermuatan Islam, serta Korean Wave) dan politik kebudayaan yang terpinggirkan (termasuk di dalamnya peristiwa pembunuhan massal 65-66, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan kelas bawah).

Bab mengenai etnis Tionghoa dalam buku ini amat menarik. Ariel menjabarkan dengan asyik mengenai kiprah etnis Tionghoa dalam budaya layar di Indonesia. Teguh Karya, salah satu sineas paling cemerlang di Indonesia, adalah keturunan Tionghoa tapi tidak pernah sekalipun ada tokoh filmnya yang keturunan Tionghoa. Orang di sekitarnya bahkan perlu berbisik-bisik menyebut Teguh Karya sebagai “seorang Cina”. Tokoh film seperti Misbach Yusa Biran pun ternyata punya pandangan agak miring terhadap etnis Tionghoa lantaran “cukong-cukong Cina” dianggap menghancurkan kualitas film Indonesia lewat impor film-film bermutu rendah.

Ketika bicara soal representasi etnis Tionghoa dalam film-film Indonesia, kondisinya tidak kalah menyedihkan. Mengutip riset Krishna Sen, Ariel menyebut bahwa pertama kalinya muncul keluarga Tionghoa dalam film “Putri Giok” (1980), mereka hanya “.. dijelek-jelekkan sebagai masalah bagi bangsa sehingga perlu mengalami ‘penghapusan’ sejalan dengan propaganda Orde Baru mengenai pembauran” (halaman 214).

Menurut Croteau dalam buku Media/Society (2013), ada tiga isu yang muncul ketika membicarakan media dan minoritas. Pertama, soal inklusi. Apakah produser media menampilkan gambar, pandangan, dan budaya dari kelompok ras yang berbeda? Kedua, bagaimana cara produser memotret minoritas dalam konten media? Ketiga, kendali produksi. Apakah minoritas punya kendali terhadap penggambaran mereka di media?

Poin terakhir menjadi sorotan penting dalam analisis Ariel selanjutnya. Pasca reformasi 1998, mulai bermunculan film-film tentang orang Indonesia keturunan Tionghoa yang mendobrak stereotip (apolitis, pedagang kaya dan pelit, dan lain-lain), seperti “Ca-bau-kan” dan “Gie”. Kini, kondisinya lebih menggembirakan lagi. Sineas muda Indonesia keturunan Tionghoa seperti Ernest Prakasa dengan menceritakan pengalamannya tumbuh sebagai “anak Cina” di Indonesia dalam film “Ngenest” (2015). Di sana kita akan melihat gambaran jujur mengenai anak sekolah yang dirundung dan dipalak gara-gara bermata sipit. Lalu dalam film Ernest yang lain, “Cek Toko Sebelah” (2016) kita akan disuguhi pemandangan orang membicarakan tragedi Mei 1998 dalam percakapan sehari-hari.

Upaya seperti yang dilakukan Ernest sangat penting sebagai alternatif wacana tentang relasi etnis Tionghoa dan negara Indonesia. Film merupakan pilihan media yang tepat karena sifatnya yang diproduksi massal dan mudah dinikmati banyak orang. Hal ini menjadi sangat penting, khususnya sekarang saat kita diseret untuk menggandrungi ideologi kepribumian. Pribumi adalah “kita” dan non-pribumi adalah “mereka”. Orang bahkan dengan bangga memasang stiker “saya pribumi”, menempelkannya di kaca mobil, lalu mengunggah foto tersebut ke media sosial seolah-olah hal tersebut merupakan suatu kemenangan besar. Budaya layar bisa memainkan peran yang amat penting sebagai alternatif terhadap ideologi kepribumian yang membahayakan ini.

Buku ini terasa istimewa karena memberi pembaca pandangan lain kala menikmati budaya pop. Daripada memandang budaya pop sekadar sebagai sesuatu yang dinikmati “iseng-iseng”, pembaca diajak untuk mengamati lebih jauh dan menggali lebih dalam. Setelah menyelesaikan buku ini, pembaca akan menonton dengan kesadaran yang baru.

Meskipun ditulis oleh seorang akademisi, buku ini jauh dari kesan menggurui. Ariel juga tidak berpretensi untuk menjadi yang serba-tahu. Membaca buku ini terasa seperti mengobrol dengan kawan yang akrab.

*Andina Dwifatma adalah dosen tetap pada Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Jakarta. Novel perdananya, “Semusim, dan Semusim Lagi” terbit pada 2013. Andina juga mengelola situs longform bertemakan human-interest, PanaJournal.com.


Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
Ariel Heryanto
Kepustakaan Populer Gramedia
September 2015

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Dialog

14 Desember 2016

Mengintip "Cek Toko Sebelah"

Raksa Santana

Ulasan

23 Maret 2017

Surga yang Tak Dirindukan 2 : Menalar Surga

Albertus Wida

Esai

12 Juni 2017

Moderasi Islam dalam Musik Metal

Putrawan Yuliandri*



Nama


Isi Komentar