back-button

Perbedaan selalu menyulut kebencian. Entah karena kita tidak senang ada yang berbeda dengan kita, entah karena kita merasa kita yang paling benar sedangkan yang lain salah. Atau sekadar karena ketidakpahaman dan ketidakinginan kita untuk memahami “yang lain” sehingga muncul prasangka buruk dan rasa curiga. Apa pun alasannya, di dalam perbedaan sering kali tidak ada penerimaan, sehingga mereka yang berbeda selalu terpinggirkan, terkucil, dan terhina.

Penerimaan yang absen inilah yang sedikit banyak dibicarakan Erwin Arnada dalam karyanya, Jejak Dedari. Novel ini sendirinya telah menggunakan ragam budaya yang “tak umum” sebagai latar belakang (Bali dengan segala tradisi dan mitosnya), dan dengan demikian membuka mata pembaca akan perbedaan budaya yang seharusnya lazim di negeri ini. Namun ada perbedaan lain yang harus diceritakan, suatu perbedaan berbalut mitos serta karma yang kemudian semakin menjauhkan rasa penerimaan.

Dikisahkan dalam buku ini tentang seorang anak remaja bernama Rare yang terlahir kolok (istilah dalam bahasa Bali untuk bisu tuli). Jauh dari rasa prihatin, ketidaksempurnaan fisik Rare (yang lalu menjadikannya berbeda dengan orang normal) justru mengundang benci dan hina, disebabkan mitos yang sudah mendarah daging secara turun-temurun. Tidak hanya sampai di situ, hari lahir Rare yang bertepatan dengan Wuku Wayang—hari lahirnya Dewa Kala—membuat masyarakat Desa Beskala di mana Rare tinggal percaya bahwa si gadis remaja terkutuk dan membawa sial.

Lantas bukannya menerima simpati, Rare malah mendapat perlakuan buruk, termasuk dari teman-teman sekolahnya, yang memfitnahnya telah menaruh racun di dalam air minum hingga wajah dan bibir mereka membengkak. Rare pun dikeluarkan dari sekolah dan semakin dikutuki orang-orang.

Hidup menjadi seseorang yang termarginalkan dan dianggap terkutuk tentu membawa beban bagi Rare dan keluarganya: Menak sang ibu, serta Uwe Ronji bibinya. Keduanya sadar bahwa untuk menghilangkan kutukan, mereka harus mengadakan upacara ruwatan untuk si gadis kolok. Tentu ini bukanlah hal yang mudah, sebab biayanya terlalu besar untuk ditanggung Menak dan Uwe Ronji sendiri. Belum lagi, Rare bermimpi menjadi seorang penari Sanghyang Dedari, tarian sakral yang sudah lama tidak dipentaskan dan yang akan membuat orang-orang menghormati sang penari. Bisakah?

Erwin Arnada dalam karyanya ini sangat tajam menggambarkan perlakuan buruk orang-orang terhadap kaum marginal, ketidakmauan orang-orang tersebut untuk menerima “yang lain,” apa pun alasannya. Bisa dibilang, penggambaran penulis sedikit terlalu dramatis untuk bahasa tulis, tetapi mungkin penulis memang menyengaja hal ini demi mendapatkan efektivitas narasi bukan semata untuk menggambarkan keadaan, tetapi juga untuk mengkritik situasi. Penulis menunjukkan bahwa kepercayaan akan mitos dan karma yang sudah terlalu membabi buta sering kali harus memakan korban orang yang berbeda, yang tidak biasa, yang tidak “sempurna.”

Terlahir kolok lantas dihubung-hubungkan dengan derita dan sumpah orang-orang yang teraniaya, terlahir pada waktu tertentu lantas dikait-kaitkan dengan kutukan, seolah-olah legenda dan hukum sebab-akibat dapat begitu saja membenarkan pengucilan terhadap mereka yang tidak sama. Tak dapat disangkal, tradisi dan kepercayaan yang telah lama dipegang akan selalu menimbulkan persoalan, selalu dijadikan alasan walau tak bisa selalu dipersalahkan. Tetapi tidak semestinya juga membuat para penganutnya merasa berhak mencela.

Selain perbedaan fisik yang mengundang cela, penulis juga sedikit menyinggung soal perbedaan etnis yang membawa celaka. Karakter Koh Lang dan Saras, keturunan Tionghoa yang sejatinya hanyalah tokoh pendamping yang tidak terlalu penting, menjadi alat bagi penulis untuk menunjukkan bahwa di negeri ini, dari dulu sampai sekarang, keberagaman merupakan sesuatu yang rawan. Tali-tali tipis yang mengikat satu bagian bangsa dengan bagian lainnya rentan sekali putus. Kaum minoritas harus selalu siap dijadikan korban, seperti Koh Lang dan Saras yang menjadi korban peristiwa 1998 dan mesti mencari tempat bernaung yang jauh dari rumah mereka yang sebenarnya. Dalam kisah ini, nasib yang dialami Rare, Koh Lang, dan Saras nyata memperlihatkan kesulitan—atau ketidakmauan—kita untuk menerima sesuatu atau seseorang yang berbeda.

Uniknya, penulis justru mengusung tema ini dengan menggunakan cerita berlatar belakang budaya yang “tidak biasa dilihat” orang awam: budaya Bali dengan segala seluk-beluk, mitos, sejarah, adat-istiadat, agama, serta tatanan dalam masyarakatnya. Bali memang bukanlah sesuatu yang asing di telinga atau mata siapa pun, tetapi boleh dibilang budaya dan sistem kepercayaan mereka bukanlah sesuatu yang dominan sehingga tampak “biasa” di tengah-tengah kita. Dengan mengangkat sesuatu yang berbeda inilah penulis seolah ingin mengatakan bahwa ada masalah dengan perbedaan. Masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan penerimaan. Baik itu penerimaan pembaca atas buku ini, maupun penerimaan kita terhadap apa pun dan siapa pun yang tidak sama.

Jejak Dedari
Erwin Arnada
GagasMedia
November 2016

*Ratih Dwi Astuti adalah penerjemah dan narablog buku.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Dialog

02 Juni 2017

"Indonesia Belum Hargai Keberagaman"

Fandy Hutari

Esai

02 Juni 2017

Representasi Karakter Diversitas pada Novel Remaja

Abduraafi Andrian

Ulasan

13 Juni 2017

Suara yang Diteriakkan The Hate U Give

Abduraafi Andrian



Nama


Isi Komentar