back-button

Sarwendah Kusumawardhani tercekat.  Air mata menetes dari balik kaca matanya. Dengan suara terbata-bata ia memberi tahu, "Saya kalau ingat mama pasti saya menangis." Setelah berhenti sejenak dan mampu menguasai diri, Endah, begitu ia disapa, melanjutkan lagi.

Baginya sang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam kariernya. Meski tertarik dengan tenis meja, ibunya dengan lugas mengarahkan Endah menekuni bulu tangkis. Bermodal koneksi sang ibu, Endah pun terdaftar di Sekolah Khusus Olahragawan Ragunan. Tidak ingin sang anak sekadar mengisi jatah, ibunya memberi syarat. "Kamu harus juara dulu di tingkat DKI Jakarta baru bisa masuk Ragunan,"ucap Endah meniru kata-kata ibunya.

Di Ragunan itu Endah mengasah diri hingga membawanya ke Pelatnas PBSI. Tekad wanita kelahiran Madiun, 22 agustus 1967 untuk membanggakan sang ibu perlahan-lahan mulai terwujud.

"Ketika saya masuk SEA Games 1985 saya satu tim dengan Ivanna Lie, Rosiana Tendean, dan Imelda Wigoena. Saya paling muda bahkan saya sisihkan kakak saya (Ratih Kumala Dewi)."

Setahun berselang Endah bersama Tim Uber Indonesia melangkah hingga partai final Piala Uber. Saat itu usianya baru 19 tahun. Empat tahun berselang ia menjadi juara World Cup yang digelar di Jakarta. Tiga gelar Belanda Open dan satu gelar Malaysia Open melengkapi daftar prestasinya.

Endah semestinya bisa mendapat lebih banyak gelar. Namun tidak sedikit harus berakhir sebagai runner up. Tantangan terberat saat itu tidak datang dari luar, tetapi dari rekan sepelatnas. Endah harus bersaing dengan Susy Susanti, juniornya yang memiliki bakat luar biasa.

Di luar lapangan keduanya berteman karib. Bahkan mereka kerap berbagi tempat tidur saat bertanding di luar negeri. "Waktu itu kita satu kamar loh. Bertiga sama pelatih. Pelatih bilang kamu dua mandi biar cici yang buat mie goreng. Kita mandi biasa aja padahal mau final," kenang Endah saat final All England 1991.

Saat berada di lapangan keduanya berjuang habis-habisan untuk merebut kemenangan. Endah ingat saat itu ia nyaris mengalahkan Susy. "Saat itu saya sudah menang di set pertama. Set kedua buru-buru mau menang, akhirnya kalah. Setelah itu saya nangis."

Endah akui tidak mudah mengalahkan juara Olimpiade Barcelona 1992 itu. Butuh perjuangan ekstra untuk menghadapi Susy yang ulet dengan penempatan bola yang akurat. "Susy itu super banget. Mau kalahkan Susy harus ekstra sabar dan kondisi harus bagus."

Meski selalu berada di balik bayang-bayang Susy, hingga mendapat julukan sebagai spesialis runner-up, Endah merasa telah mencapai titik maksimal. Setidaknya misi utamanya telah terwujud yakni membuat ibunya bangga.

Mengelola klub

Setelah badai cedera mulai menerpa saat tampil di Kuching, Malaysia tahun 1993, Endah tetap bertahan memegang raket. Proses penyembuhan terus berjalan, sementara gairah untuk bermain tak juga meredup. Ia pun beralih ke sektor ganda putri.

"Saya pindah ke ganda karena pemulihan dengan bermain di tunggal tidak bisa secepat itu. Ditambah lagi usia saya sudah tidak mendukung."
Setelah didepak dari Cipayung, Endah tetap bergeming disebut gantung raket. Ia tidak mau diberi predikat demikian. Rupanya Endah tidak ingin begitu saja berpisah dari dunia yang telah membesarkan namanya.

Tidak lama kemudian, ia menerima ajakan PB Tangkas Jakarta menjadi pelatih tunggal putri. Meski tidak mudah, Endah tetap menjalani panggilan tersebut dengan tekun. Tidak sampai di situ. Endah pun berhasrat memiliki lapangan dan klub bulu tangkis sendiri.

Kepada Hermawan Susanto, peraih perunggu tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992 yang menikahinya pada 1995, Endah mengutarakan keinginan tersebut. Akhirnya Endah dan Hermawan mengakuisisi klub masa kecil bernama Mei. Memanfaatkan Gelanggang Olahraga yang terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur, pada 2010, Endah membuka klub dengan mengambil nama dirinya sendiri: Sarwendah Badminton Club.

Berbagi peran dengan sang suami mengelola klub tersebut hingga akhirnya pada 2013 dipanggil menangani tunggal putri pelatnas. Endah menjadi asisten pelatih di bawah pimpinan pelatih asal China, Li Mao.

"Saya gemas melihat prestasi di tunggal putri tidak seperti jamannya saya dan Susy Susanti. Ada keinginan untuk mengembalikan prestasi itu," beber ibu satu anak ini.

Total

Selama berada di Cipayung Endah berusaha menanamkan nilai-nilai yang kurang terasa seperti disiplin dan semangat pantang menyerah. Salah satu hasil perjuangannya dituai di Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta. Endah sanggup membawa Linda Wenifanetri hingga ke babak semi final, mengalahkan pebulutangkis nomor satu dunia saat ini, Tai Tzu Ying, 14-21, 22-20, dan 21-12.

Selain kepada para pemain senior, yang tidak tersisa seorang pun saat ini, kepada para pemain muda Endah menanamkan semangat yang sama. Beberapa pemain muda yang kini bersinar seperti Gregoria Mariska, Hanna Ramadhini dan Fitriani tidak lepas dari polesan Endah.

"Awal saya pegang anak-anak gampang sekali menyerah. Saat saya tinggalkan sudah ada perubahan. Mereka disiplin, tidak ada absen latihan, apapun yang terjadi selalu berusaha tetap berlatih."

Endah hanya tiga tahun berada di Cipayung. Saat berganti pengurus di awal tahun 2017, namanya tidak masuk dalam daftar. Meski perjuangannya untuk mencetak penerus belum sampai ke garis akhir, Endah mengakui bahwa di tangan para pelatih saat ini bakat-bakat muda itu bisa berkembang.

"Mungkin kita dianggap gagal. Kebetulan tiga pelatih (tunggal putri) ini out semua. Yang penting saya sudah beritahu ke anak-anak, siapa pun pelatih kalian itu adalah pilihan PBSI yang terbaik."

Walau tidak lagi menangani tim nasional, Endah masih tetap bertekun dengan bulu tangkis. Hari-hari ia habiskan bersama para pemain muda di klub. Bagi Endah kedekatannya dengan bulu tangkis tak ada batas akhir. Baginya bulu tangkis bukan hobi tetapi pekerjaan, bahkan sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Totalitasnya pada bulu tangkis tak perlu diragukan lagi. Ia sudah membuktikan selama bertahun-tahun. Termasuk tahun lalu, ia rela berada jauh saat sang ibu berjuang dengan sakratul maut. Saat itu Endah sedang mendampingi para pemain muda di Kejuaraan Dunia Junior di Bangkok, Thailand.

" Waktu itu saya tinggalkan mama di rumah sakit. Ini tugas terakhir dan saya pikir setelah pulang saya akan tungguin mama saya. Tetapi waktu saya pulang ternyata mama saya udah nggak ada," ungkap Endah dengan mata berlinang.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Dialog

04 Agustus 2016

"Hidup Saya untuk Bulu Tangkis"

Charles DM

Dialog

02 Juni 2017

"Indonesia Belum Hargai Keberagaman"

Fandy Hutari

Ulasan

09 Januari 2017

Annie dan Isu Rasisme

Shadia Pradsmadji



Nama


Isi Komentar