back-button

Cucu-cucuku!
Zaman macam apa, peradaban macam apa,
yang akan kami wariskan kepada kalian!
Jiwaku menyanyikan tembang maskumambang

Itulah sebait puisi W.S. Rendra berjudul “Maskumambang”. Dimuat dalam antologi Doa untuk Anak Cucu. ‘Maskumambang’ adalah komposisi tembang macapat. Biasanya dipakai untuk melukiskan cerita sedih atau keprihatinan mendalam. Bila membaca sajak yang ditulis pada 2006 itu secara utuh, kita akan tahu Rendra menyuarakan kesedihan sekaligus protes atas situasi hukum, politik, dan agama bangsa ini karena diperalat kekuasaan. Ia juga menyebutkan pembakaran berbagai tempat: pasar, toko, gubuk, restoran, bahkan gereja.

Sejak era reformasi 1998 hingga kini, berbagai persoalan dihadapi bangsa ini. Persoalan yang muncul bahkan sampai mencederai rasa persatuan. Bangsa kita menjadi terpecah-belah. Padahal, sembilan puluh tahun sebelum reformasi, Dr. Soetomo lewat organisasi Budi Utomo yang berdiri pada 20 Mei 1908 menginginkan agar rakyat bersatu. Perjuangan Budi Utomo, yang dua puluh tahun kemudian disusul peristiwa Sumpah Pemuda, menjadi cikal-bakal munculnya nasionalisme bangsa ini.

Perjuangan Budi Utomo awalnya bukan di ranah politik. Baru pada tahun 1915, organisasi ini berubah haluan secara politik (Soemarno, 2013). Dalam Statuten Boedi Oetomo disebutkan bahwa tujuan awal organisasi ini didirikan adalah “de harmonische ontwikkeling van landen volk van Java en Madura,” yang artinya “(mengupayakan) kemajuan yang harmonis untuk nusa bangsa Jawa dan Madura” (dalam Rachman, 1975: 107).

Semula tujuan Budi Utomo bisa tercapai lewat gerakan bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Namun organisasi ini tampaknya menyadari, kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa agenda politik. Dengan upaya itulah, bertahun-tahun kemudian bangsa Indonesia berhasil memerdekakan diri dari penjajahan. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, jati-diri bangsa ini masih terombang-ambing.

Silang Budaya dan Nasionalisme

Pada 1957, saat Indonesia memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke-12, Bung Karno menyuarakan kekecewaan mendalam pada pidatonya atas berbagai hal. Beberapa poin di antaranya: tiga belas kali pergantian kabinet, kerewelan dalam urusan daerah dan tentara, dan ketidakcukupan bahan pangan sehingga perlu mengimpor beras. Selain itu, Bung Karno juga menyoroti bidang kebudayaan. Kala itu, kebudayaan nasional kurang diminati, rakyat lebih menyukai musik jazz dan rock and roll (Departemen Penerangan RI, 1962).

Dari uraian di atas, ada satu poin yang perlu digarisbawahi. Sebelum merdeka, Budi Utomo sudah bergerak memperjuangkan kebudayaan. Namun, 12 tahun setelahnya, rakyat justru banyak menggandrungi kebudayaan asing.

Gandrungnya masyarakat terhadap kebudayaan asing ini tak semata menjangkiti individu, tetapi juga pada organisasi. Beberapa waktu lalu pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi ini dianggap asing lantaran paham ideologinya tak sesuai dengan bangsa ini. Tujuan HTI menjadikan Indonesia sebagai negara agama jelas bertentangan dengan Pancasila. Karena itu, upaya pemerintah mengambil langkah tersebut sudah tepat. Sebab, aktivitas HTI berpotensi memantik intoleransi dan memecah belah persatuan bangsa.

Meski demikian, pembubaran HTI tak serta-merta membuat paham intoleran-radikal berhenti menebarkan pengaruh. Di sekolah, universitas, atau tempat-tempat ibadah, paham itu bisa terus berkembang bila tak ada pemantauan intensif berkelanjutan.

Hal ini kadang terlupakan oleh kita. Padahal, pengaruh barat perlu diwaspadai. Bung Karno sudah mengingatkan puluhan tahun silam dalam pidatonya; budaya asing—seperti musik jazz dan rock and roll—tidaklah agamis atau radikal. Namun, budaya kebarat-baratan itu dinilai Bung Karno tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia—setidaknya untuk saat itu.

Saat ini, ketika informasi dari berbagai penjuru dunia mudah diakses, generasi muda menjadi mudah tergiring. Mereka tak sedikit yang miliki pemahaman kalau bangsa lain (selalu) lebih baik daripada bangsanya sendiri.

Peran Pembelajaran Sejarah

Suatu ketika saya bertemu remaja yang sedang menyukai belajar Bahasa Inggris. Di sekolahnya, dia diajar oleh guru dari luar Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Saya terkejut saat bercakap-cakap dengannya. Cara bicara remaja itu mendadak berubah.  Logatnya lain. Tampak ia mulai tidak biasa mengucapkan huruf ‘r’. Huruf ‘r’ dalam kata-katanya menjadi samar. Mirip orang Inggris. Saya mengira awalnya dia bercanda, tapi ternyata tidak.

Lain halnya dengan yang saya alami beberapa tahun silam. Saya dan teman-teman mahasiswa jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang berwisata ke Bali. Kala itu, kami menyaksikan turis domestik di Pantai Kuta yang senang sekali mengajak bule atau turis asing berfoto bersama. Mirisnya, beberapa bule tampak terganggu diajak berfoto. Saya berkelakar kepada seorang teman: “Satu orang Amerika diturunkan ke seratus orang Indonesia, delapan puluh orang mungkin akan menyambutnya dengan ramah dan mengajaknya berfoto bersama. Sebaliknya, satu orang Indonesia diturunkan ke seratus orang Amerika, tidak ada satupun yang memedulikannya.” Teman saya tertawa.

Dua pengalaman itu membuat saya bertanya dan merenung: sudah sedemikian mundurkah Indonesia di mata warganya sendiri? Bangsa Indonesia sudah memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka dari cengkeraman penjajahan, tapi ada yang berkelakuan membuka diri lebar-lebar untuk dijajah. Tiap tahun kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Kemerdekaan, tapi masih ada yang terjebak pada pemahaman bahwa ada ras dan bahasa tertentu yang lebih unggul dibanding bahasa lainnya (Indonesia).

Alih-alih mensyukuri keberadaan budaya kita yang beragam, tak jarang kita malah mengagumi kebudayaan asing. Lalu berpikir dan menganggap keberagaman di negeri sendiri menjadi biang percekcokan. Lihat saja akhir-akhir ini. Penyebutan istilah ‘pribumi’ dan ‘nonpribumi’ kembali mengemuka. Kalau tak sepaham agama—atau aliran agama tertentu—orang-orang mudah melabeli ‘kafir’.

Bagi guru dan sekolah, sudah saatnya mengajarkan (kembali) bahwa semua bangsa sama derajatnya. Semua manusia sama kedudukannya. Keberagaman yang dimiliki bangsa kita sepatutnya diterima sebagai rahmat. Yang membedakan kita dengan orang dan bangsa lain adalah kegigihan dan semangat untuk memilih: maju, berjalan di tempat, atau mundur.

Ideologi yang tak sejalan dengan Pancasila akan mudah berkembang bila kita melupakan sejarah perjuangan bapak bangsa kita yang mewujudkan Indonesia merdeka. Ideologi atau paham yang terlalu menganggap bahwa budaya berbau barat lebih baik daripada budaya nasional bisa jadi sama membahayakannya dengan paham intoleran-radikal yang agamis—keduanya berpotensi merusak nasionalisme. Kita hanya akan terus berjalan di tempat, atau malah mundur ke belakang, kalau terus-menerus menganggap hal-hal yang berbau asing lebih baik daripada budaya dan sejarah bangsa sendiri.

Apakah tidak terdengar lucu kalau kita bersikukuh anti dengan paham-paham intoleran, tapi ternyata banyak anak-anak kita yang tidak hapal Pancasila? Apakah tidak terkesan janggal kalau ada orang berteriak lantang “NKRI Harga Mati!” tapi tidak mengetahui tujuan nasional negaranya yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945?

Karena itulah, para guru perlu menanamkan pemahaman yang baik tentang kebudayaan nasional dan sejarah bangsa. Itulah yang akan membuat kita (kembali) menemukan jati-diri sebagai bangsa yang merdeka dan beragam. Kita perlu memperlakukan sejarah sebagai kisah yang berarti dan sarat pembelajaran, bukan seperti artefak yang tergeletak. Dengan demikian, sejarah pun menjadi hidup, memiliki kekuatan untuk mendidik batin generasi muda.

Bung Karno, dalam pidatonya pada 1961 mengisahkan perjalanannya ketika meninggalkan sebuah museum di Mexico. Ia terpana dengan kata-kata yang tertulis di gerbang museum itu, yang baiknya kita renungkan bersama, agar tak melupakan sejarah:

We leave museum behind, but not history, because history continues without life.

*) Novelis dan guru yang tinggal di Pontianak. Belakangan suka membuat tulisan reflektif tentang pendidikan dan sosial. Novel terakhirnya Ninja dan Utusan Setan (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2017).

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Ulasan

18 April 2017

Para Peletak Dasar Pendidikan Nasional

Darmaningtyas*

Dialog

16 September 2016

Sejarah Ketakutan, Ketakutan Sejarah

Raksa Santana

Dialog

02 Juni 2017

"Indonesia Belum Hargai Keberagaman"

Fandy Hutari



Nama


Isi Komentar