back-button

"Astaga, tempat ini autentik sekali," komentarnya. "Sangat kolonialis!"

Saya tergelak dan mempersilakan laki-laki parobaya itu duduk. Lebih dari tiga puluh tahun lalu, Andrew Weintraub hanyalah mahasiswa musik muda yang berambisi jadi gitaris profesional. Suatu ketika, kisahnya, ia menemui orkes gamelan di kampusnya, dan ia jatuh cinta. "Memang itu klise," ucapnya. "Kebanyakan orang hanya tahu soal musik Indonesia melalui gamelan, karena itu alat musik yang eksotis."

Bermodal surat dari sang guru program gamelan, Andrew muda berangkat ke Jawa Barat untuk meneliti musik tradisional Indonesia. Namun, di sana ia justru terkesima pada jenis musik lain. "Saat saya sendirian, saya memasang headphone dan mendengarkan Dangdut," kisahnya. Dua puluh tahun kemudian, ia kembali ke Tanah Air dan meneliti aliran musik tersebut secara serius.

“Saya terganggu dengan anggapan bahwa Dangdut itu musik yang tak berkelas,” ujarnya. “Saya terganggu dengan sikap orang yang cenderung meremehkan Dangdut.” Ia pun berkeliling Indonesia dan menemui legenda-legenda musik Dangdut – mulai dari bintang Dangdut macam Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, hingga angkatan pertama musik Dangdut seperti Ellya Khadam dan Munif Bahasuan. Hasil dari rasa penasaran itu adalah buku Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia, salah satu hikayat paling mendalam tentang musik terpopuler di Indonesia.

Ketika kami bertemu di Cikini beberapa waktu lalu, pengajar di Universitas Pittsburgh itu mengaku sedang cuti panjang. Ia ingin kembali ke Indonesia, bertemu kawan-kawan lama, dan meriset musik Indonesia lebih dalam lagi. Sembari menyeruput kopi, ia menjabarkan agendanya yang padat. Ia tengah menulis buku tentang musik Indonesia lama, membantu pengarsipan salah satu label legendaris, dan ingin berangkat ke Surabaya untuk meneliti Dangdut Koplo.

Sore itu, kami mengagumi desain ala Indonesia Lama di kafe tersebut, sembari bertukar pikiran tentang Rhoma Irama, bagaimana Dangdut mencerminkan perubahan politik di Indonesia, dan kolonialisme gaya baru. Berikut petikan obrolan kami.

 

Apa yang mendorong Anda untuk meneliti tentang budaya populer, terutama Dangdut?

Saya tertarik pada manusia. Saya tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang digali dalam studi budaya populer: apa yang membuat sesuatu bisa populer? Seperti apa cara kerja media? Tren selalu berubah. Ketika kita membahas musik populer di Indonesia, kita selalu berbicara tentang musik angkatan tahun 1950-60’an seperti Koes Plus, tapi musik itu tidak benar-benar ‘populer.’ Musik seperti Koes Plus hanya didengarkan oleh orang-orang elit. Kalau anda datang ke hajatan, tidak ada band yang memainkan musik Koes Plus. Kebanyakan orang mendengarkan Orkes Melayu.

Karena itu, saya menyebut Dangdut sebagai ‘musik paling populer di Indonesia’. Dangdut ada di mana-mana. Tentu saja, banyak yang bertanya kenapa saya sudi mempelajari Dangdut. Kemarin, saya bertemu seorang wartawan dari salah satu media yang bersikeras pada saya bahwa Dangdut itu tidak bermoral. Sebagai perempuan, menurut dia penampilan penyanyi Dangdut seperti Inul dan Jupe sangat vulgar.

Saya bilang, kita bisa beranggapan begitu. Tapi, bagi saya Dangdut adalah forum yang mempertemukan berbagai wacana. Dangdut adalah forum untuk mengekspresikan tubuh seseorang secara bebas, terutama bagi perempuan. Sekaligus tempat untuk mengekspresikan pemikiran Islam, seperti yang dilakukan Rhoma Irama. Semua ‘tabrakan budaya’ yang terjadi di Indonesia bisa kita lihat di Dangdut.

Banyak yang beranggapan bahwa Dangdut adalah musik kampungan, tapi di pertengahan dekade 90’an, Sekretaris Negara Moerdiono berujar bahwa Dangdut adalah musik yang mewakili jiwa Indonesia. Bahkan, Emha Ainun Nadjib bilang di tahun 1970’an bahwa “kita ini orang-orang kulit cokelat yang berpura-pura jadi bule.” Dia mengajak Indonesia introspeksi. Baginya, orang Indonesia cuma berlagak bule saat mendengarkan musik Barat.

 

Sebenarnya seperti apa sejarah Dangdut, sampai ia menjadi aliran musik yang sepopuler sekarang?

Ceritanya luar biasa. Di pertengahan abad ke-19, ada banyak orkes-orkes keliling yang menggabungkan banyak jenis musik, dan tampil di daerah Malaysia dan Singapura. Mereka band-band bangsawan yang menggabungkan musik Melayu dengan musik India, musik Tiongkok, musik Barat, dan musik Timur Tengah. Jenis musik mereka sangat khas. Mereka memainkan musik untuk penonton dari berbagai suku bangsa yang merantau ke tempat-tempat ini dan ingin hiburan. Jadi, mereka perlu hiburan yang bisa dinikmati semua orang. Musik orkes ini ibarat bahasa bersama yang mempersatukan mereka – sama seperti Bahasa Indonesia, yang dimulai sebagai bahasa dagang. Dari orkes-orkes ini, muncul berbagai orkes lain seperti orkes Harmonium, orkes Gambus, dan orkes Melayu. Contohnya, ada Syech Albar – ayah Achmad Albar, vokalis Godbless. Dia penyanyi Orkes Gambus yang sangat terkenal di tahun 1930’an. Akar Dangdut ada di musik-musik ini.

Di tahun 1950’an, Orkes Melayu identik dengan daerah Sumatera Utara. Tapi, melalui media massa dan orkes yang tur ke berbagai kota, Orkes Melayu modern berkembang. Musisi seperti Munif Bahasuan dan Ida Laila, serta kelompok seperti OM Sinar Kemala di Surabaya, mereka memainkan musik Melayu. Mereka juga jatuh cinta pada musik film-film India di tahun 1950’an, dan memainkannya untuk orang banyak. Semuanya hanya hiburan. Itu yang ingin didengar orang banyak.

Ellya Khadam merespon tren ini di tahun 1960’an, sebelum Rhoma Irama. Dan dia sangat populer! Dia menyanyikan ulang lagu-lagu India dengan gaya Indonesia. Dia berdandan dengan baju India, gesturnya sangat India, dan dia tampil di film-film. Budaya campuran India-Indonesia mulai populer. Seperti yang dituturkan Meggy Z pada saya, “Kamu ambil semua hal yang ada di sekeliling kamu, dan kamu jadikan musik!” Kalau ada lagu dari film India yang enak, kamu terjemahkan dan kamu mainkan ulang. Saat itu, belum ada industri.

Rhoma Irama melihat kecenderungan tersebut. Sepanjang tahun 60’an, dia menyanyikan lagu-lagu pop. Saat itu, dia menjuluki dirinya sendiri “Tom Jones-nya Indonesia”! Gayanya seperti penyanyi pop kebanyakan. Tapi, dia lihat keadaan mulai berubah. Soekarno sudah turun, Indonesia membuka diri pada luar negeri, musik rock mulai terkenal di kalangan anak muda. Musik mulai berubah. Meski Orkes Melayu sangat populer, orkes itu sangat tidak menarik ditonton. Cuma ada sekumpulan musisi tua yang duduk di atas panggung, memainkan alat musik. Siapa yang mau nonton?

Jadi, dia ubah semua itu. Dia paksa penonton berdiri, dia membuat aksi panggung yang luar biasa, dia memakai kostum yang flamboyan. Dia memainkan gitar listrik, dan musiknya sangat kencang. Rhoma menggabungkan tradisi Orkes Melayu dengan musik rock. Dia pengaransemen yang brilian. Rhoma mengubah bagaimana musik Dangdut ditampilkan dan dijual.

Teori bahwa Rhoma adalah penemu Dangdut, menurut saya, kurang tepat. Bagi saya, dia seperti Elvis Presley yang mengadopsi dan mempopulerkan musik rock and roll. Tapi, pengaruh Rhoma luar biasa. Di tahun 1970’an, label besar Remaco mulai merilis album-album Pop Melayu – dan tren ini dimulai oleh Dangdut. Rhoma memaksa industri musik berganti haluan.

 

Apa yang membuat Dangdut bisa begitu populer di Indonesia?

Kita tak bisa menafikan peran Rhoma Irama. Tapi, ia juga mulai terkenal saat industri musik mulai bergeser ke kaset. Semua orang bisa membeli kaset – harganya hanya 1000 rupiah untuk 3 kaset – tapi tak semua orang bisa membeli piringan hitam. Di jalanan, terutama di Glodok, ada banyak sekali tempat untuk membeli kaset. Pergantian media itu membuat akses masyarakat luas pada musik jadi lebih mudah.

Sebenarnya, Rhoma dicekal di TVRI dan RRI mulai dari tahun 1978 hingga 1989. Ia tidak terkenal karena televisi dan radio. Dangdut bergantung pada penampilan live, dan penjualan kaset yang luar biasa. Film-film Dangdut juga mulai sering diproduksi dan mempopulerkan musik tersebut. Kebanyakan peneliti film tak mau menulis tentang film Dangdut karena menurut mereka film tersebut ‘murahan’, tapi film seperti itulah yang ditonton kebanyakan orang. Film seperti itulah yang tayang di bioskop-bioskop kecil dan layar tancap.

Sepanjang tahun 80’an, Dangdut mulai bergeser. Penyanyi seperti Evie Tamala dan Camelia Malik muncul, dan Dangdut mulai terdengar lebih pop. Di tahun 90’an, negara mulai mencoba memanfaatkan Dangdut untuk menyebarkan propaganda era Soeharto. Pemerintah Orde Baru putus asa, mereka perlu merebut hati rakyat, jadi mereka menggunakan Dangdut. Entah bagaimana, mereka meyakinkan Rhoma Irama untuk bergabung dengan Partai Golkar. Kampanye politik mulai wajib membawa penampilan Dangdut – meski hal ini sudah terjadi sejak tahun 1977. Bahkan, di pertengahan tahun 90’an Dangdut mulai disenangi oleh kelas menengah.

Lucunya, beberapa majalah di era itu mulai menulis artikel ‘panduan berjoget ala Dangdut.’ Tapi, pada saat bersamaan, ada perdebatan seru soal bahaya Dangdut. Dangdut dianggap vulgar, klub Dangdut dituduh sebagai sarang prostitusi dan narkoba. Konflik kelas di Indonesia mulai terkuak melalui Dangdut. Sama seperti di tahun 70’an, ketika musisi Benny Soebardja bilang Dangdut itu “musik taik anjing.”

Tapi, para penggemar Dangdut tidak peduli soal semua ini. Mereka tidak peduli, musik Dangdut itu dianggap vulgar atau tidak oleh para elit. Mereka tidak peduli Dangdut jadi musik nasional atau tidak. Dangdut itu musik mereka. Buat apa ikut ribut? Dangdut tidak perlu mendapat ‘penerimaan’ dari negara. Dangdut tidak butuh dihormati oleh orang lain. Dan penyanyi seperti Rhoma Irama akan tetap populer, apapun yang terjadi.

 

Sebelum tahun 90’an, apakah pemerintah tidak pernah terpikir untuk memanfaatkan Dangdut demi kepentingan politik?

Saya yakin mereka terpikir, tapi belum tentu mereka berani. Lagu-lagu Dangdut karya Rhoma Irama, misalnya, sangat pro-rakyat. Beberapa lagu bahkan bisa dibilang anti-pemerintah. Rupiah, misalnya, adalah lagu yang mengkritik kapitalisme. Selain itu, elemen Islam di musik dan budaya dibungkam oleh Soeharto. Ia tak mau agama bercampur dengan politik. Bagi Orde Baru, hanya kapitalisme yang penting.

Jadi, ketika Rhoma Irama menulis lagu dengan pesan pro-Islam seperti Al-Qur’an dan Koran, ia terang-terangan mengkritik negara dan modernitas. Lagu itu seperti bertanya, “Buat apa kamu membaca koran, yang merupakan simbol modernitas dan kapitalisme, sementara kamu tidak membaca Al-Qur’an, yang mewakili jiwamu, pengembangan dirimu, dan Tuhan?” Karena lagu-lagu seperti itu, hubungan antara Rhoma dan pemerintah sangat dingin.

Bahkan, hubungannya dengan gerakan Islam juga tidak baik. Ia dikritik karena dianggap mempopulerkan Islam. Di salah satu lagunya, ia memasukkan ayat dari Al-Qur’an, dan dia dituding ingin cari uang dari agama. Saat itu debatnya sangat sengit – sekarang mungkin agak sulit kita pahami, karena Rhoma identik dengan Islam dan politik. Tapi, saat itu keadaannya berbeda.

 

Menariknya, seperti yang anda jelaskan tadi, pada awal tahun 90’an Mensesneg Moerdiono malah berujar bahwa Dangdut adalah musiknya Indonesia.

Saat itu, kapitalisme di Indonesia sudah menggila. Ada berbagai proyek besar dan investasi besar yang masuk ke Indonesia. Kalau anda meneliti era tersebut, Indonesia benar-benar kaya sebelum proyek-proyek itu mulai bangkrut di pertengahan tahun 90’an. Kemudian, mahasiswa dan masyarakat luas mulai mempertanyakan kekuasaan Soeharto dan memberontak.

Hampir semua perubahan luar biasa itu terjadi pada saat bersamaan. Di awal tahun 90’an, dan terutama menjelang akhir kekuasaan Soeharto, pemerintah mulai berusaha secara serius untuk membentuk budaya nasional yang berdasarkan Dangdut, dan memanfaatkan Dangdut untuk menarik simpati masyarakat.

Wacana bahwa Dangdut adalah budaya yang khas Indonesia ini dikritik di lagu Project Pop, Dangdut is the Music of My Country. Mereka mempertanyakan hal itu. “Apakah Dangdut benar-benar musik negara kita? Apakah itu jati diri kita sebenarnya?” Tapi, mereka memasang sikap yang elitis. Mereka beranggapan bahwa Dangdut itu musik kelas rendahan, tapi mereka cukup kritis untuk bertanya, apakah itu identitas Indonesia sebenarnya. Apakah kita bisa tersenyum dan joget, dan bilang semuanya baik-baik saja dan menerima semuanya tanpa bertanya? Pertanyaan itu sah, dan saya paham. Tapi, sikap elitis mereka aneh.

Dan cara pandang elitis terhadap Dangdut ini bukan barang baru. Di tahun 70’an, muncul band-band kampus yang memainkan musik Dangdut, di antaranya Pancaran Sinar Petromaks. Di majalah seperti Tempo, merekalah yang dijadikan contoh musik Dangdut. Sejak awal, masyarakat luas memang memandang Dangdut dengan pola pikir yang anti-rakyat.

Kita memang perlu menggali lebih dalam, dan berpikir lebih kritis. Seorang rakyat kebanyakan yang kelas pekerja mungkin akan memandang Dangdut secara berbeda. Tapi, saya harus berhati-hati dengan cara pikir seperti itu. Sebagai orang Barat, saya tidak berhak menyatakan bahwa saya ‘berpihak pada rakyat’, atau semacamnya. Itu fantasi orientalis. Saya tidak mampu mewakili suara rakyat kebanyakan. Bukan itu tugas saya. Sebagai akademisi, tugas saya adalah menuliskan kisah panjang tentang ideologi dan politik, dan berbagai sudut pandang berbeda yang bermuara pada budaya tersebut.

 

Anda tidak mau berlagak jadi ‘orang Barat penyelamat’ yang melegitimasi Dangdut.

Benar. Apalagi, Indonesia adalah budaya yang sangat ramah pada orang asing. Mudah saja bagi mereka untuk bilang, “Setelah 350 tahun penjajahan, kamu masih mau lebih? Kamu pikir kami wajib duduk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolmu?” Saya mencoba untuk lebih banyak berdialog. Tapi, saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri. Posisi saya subyektif.

Tak sedikit orang Indonesia yang berpendapat bahwa kerja saya – seorang Barat meriset budaya Indonesia, dan menerangkannya pada orang Indonesia – adalah semacam penjajahan gaya baru. Mereka sendiri tak pernah terpikir untuk memandang Dangdut dari sudut pandang akademis. Ada yang bilang pada saya, “Wah, orang Indonesia memang tak bisa menghargai budaya sendiri. Sementara, orang luar negeri malah suka budaya kami!” Saya yakin, anda sering mendengar ucapan seperti ini.

Selama berabad-abad, hubungan antara Indonesia dan Barat – terutama Eropa – adalah hubungan Kolonial. Pemikiran bahwa Indonesia adalah sosok subaltern yang lebih rendah dari Barat sudah begitu melekat. Jadi, secara psikologis, mudah sekali untuk membentuk persepsi bahwa Barat-lah yang memimpin dan menyuruh-nyuruh anda.

Saya pertama kali mengalami hal ini dengan gamelan. Kebanyakan orang Indonesia tak dekat dengan gamelan. Tapi, karena alat musik tersebut diakui dunia, mendadak gamelan adalah ikon dari sejarah budaya dan musik Indonesia. Begitupun musik Indonesia lama. Ketika kolektor-kolektor musik dari luar negeri datang ke Indonesia, mereka membeli musik Indonesia lama. Orang Indonesia mulai meniru sikap tersebut, dan seolah-olah lebih menghargai musiknya sendiri. Karena Barat menghargainya, kami juga harus menghargainya. Itu hubungan neo-kolonial.

 

Masalahnya, wawancara ini seolah-olah sedang mengukuhkan pemikiran itu. Anda sudah menulis tentang Dangdut, dan karena itulah saya menganggap serius jenis musik tersebut.

Justru, saya harap orang menganggap serius musik Dangdut. Tapi, belum tentu buku saya berdampak.

Namun, saya iri pada Joshua Oppenheimer – sutradara The Act of Killing. Ketika film itu pertama dirilis, tak banyak orang yang peduli. Perlu waktu bagi generasi muda Indonesia yang memiliki kesadaran sejarah berbeda untuk menemukan film tersebut. Dengan menonton film tersebut, mereka mendapat pemahaman tentang sejarah yang berbeda. Dan pemahaman itu penting. Mereka tak peduli, para penjagal di film itu dihukum penjara atau tidak. Yang penting adalah mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kesadaran mereka berubah.

 

Apakah anda berharap buku anda akan menciptakan kesadaran sejarah yang berbeda?

Saya tidak bermimpi bisa membuat pengaruh yang sama dengan Oppenheimer. Tapi, tentu saja saya berharap buku itu bisa mengubah cara pandang orang terhadap Dangdut. Sebagai penulis, anda pasti ingin orang merespon ide-ide anda dan belajar sesuatu yang baru. Anda pasti ingin menulis tentang sesuatu yang membuat anda – dan pembaca anda – penasaran.

Hingga kini, kebanyakan orang yang saya temui tertawa saat saya bilang saya menulis buku tentang Dangdut. Tapi, Dangdut adalah forum bagi semua orang untuk mengekspresikan dirinya dengan berbagai cara. Wacana gender, seksualitas, ras, kelas, semuanya ada di sana. Dangdut itu universal.

 

----

“Cara dia ngomong aja kayak di film-film!” kisah David Tarigan. “Dia manggil gue, ‘David...’”

Kami semua tertawa terbahak-bahak. Andrew, David, dan Shun tengah bertukar anekdot tentang Rhoma Irama – mulai dari mendengarnya berceloteh tentang agama, hubungan beliau yang seperti keluarga dengan Soneta Group, dan pengalaman Andrew melakukan wawancara ‘dadakan’ dengan Rhoma. Seorang akademisi asal Amerika Serikat, seorang kolektor musik Ibukota, dan seorang pemilik kafe asal Jepang. Mereka dipersatukan oleh rasa kagum yang luar biasa pada sang Kaisar Dangdut.

Sebentar lagi jam 12 malam, dan Shun undur diri ke dapur untuk meracik ronde kedua minuman kami. Mendadak, ponsel Andrew bergetar dan seantero meja heboh. Menjelang tengah malam, di tengah kafe yang bising, ia mendapat telepon dari Rhoma Irama.

Kumaha damang, Rhoma?” ucap Andrew ke ponselnya.

Tak lama kemudian, Shun lari terbirit-birit dari dapur menenteng gelas. Dengan raut wajah bingung, ia bertanya apa yang baru saja terjadi.

“Oh, barusan Rhoma telepon,” ujar Andrew dengan raut wajah malu. “Dia baru pulang dari luar kota. Katanya maaf belum sempat ketemuan, kapan-kapan disuruh mampir ke rumahnya. Yeah, he’s a sweet guy.”

Kami semua melongo.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Ulasan

22 Februari 2017

Seribu Hikayat Ucok AKA Harahap

Raka Ibrahim

Ulasan

07 April 2017

Ketika Kelas Ditentukan Meja dan Kursi

Nosa Normanda*



Nama


Isi Komentar