back-button

“Dulu, waktu gue nge-rap di acara pasar seni, gue ingat banget ada yang bilang, ‘Ini orang nyanyi atau ayan, sih?’”

Iwa Kusuma menghisap rokoknya dalam-dalam dan tergelak. Sore itu, ia membeberkan segudang cerita manis dari masa mudanya. Mulai dari menyalin satu per satu lirik lagu rap yang ia dapat secara kebetulan di sebuah kaset, diusir orang ketika bermain tari kejang di tempat yang kurang tepat, hingga diarak keliling kota saat promosi album. Di atas panggung, semua orang memanggilnya Iwa K. Namun, sore itu, seorang pengantar paket tiba ke rumahnya dan memanggilnya dengan sapaan sederhana: Pak Iwa.

“Gue memang enggak tahu malu,” lanjutnya sembari tersenyum jahil. “Gue memang merasa ini enak. Mungkin di lagu pertama mereka masih seperti itu. Tapi di lagu kedua dan ketiga, mereka sudah mulai goyang.”

Lagi-lagi, ia tertawa lepas. “Gue sih bodo amat!”

 

----

Hip hop bermula dari mereka yang terpinggirkan. Sepanjang tahun 70-an, distrik-distrik kumuh seperti The Bronx di New York, Amerika Serikat, kerap menjadi tuan rumah bagi pesta-pesta rakyat yang dijuluki block party. Pesta-pesta ini biasa diadakan di tempat terbuka, tidak sepenuhnya legal, dan menjadi kawah candradimuka bagi praktik kultural yang nantinya menjadi ciri khas hip hop, seperti rapping, DJ, breakdance atau tari kejang, dan grafitti. Memasuki tahun 80-an, hip hop kian populer dan mulai menembus arus utama.

Namun, pola yang berbeda terjadi ketika praktik-praktik kultural yang terkandung dalam hip hop mulai masuk di Indonesia. Perjalanan panjang hip hop di Indonesia tidak dimulai dari geliat komunitas bawah tanah atau acara-acara arus pinggir yang dirayakan oleh kelompok masyarakat tertentu. Tak seperti scene metal yang sudah mapan atau scene punk yang mulai menemukan massa, pada awal kemunculannya hip hop Indonesia bermula dari serangkaian tren remaja yang muncul secara sporadis dan dibesarkan oleh industri.

“Gue rasa, di Indonesia, orang mengenal musik rap dari disko.” Tutur Iwa K. Ketika muda, ia tak sengaja menemukan sebuah lagu dari Sugarhill Gang berjudul Rapper’s Delight di sebuah kaset album kompilasi lagu-lagu disko. Kelompok yang sama juga menjadi pintu masuk bagi Masaru Riupassa, seorang musisi muda yang kemudian menjadi produser Iwa K. “Dulu, kita dapat musik-musik rap dari teman yang datang dari Amerika dan bawa kaset atau plat.” Kisahnya. Saat muda, ia pun sempat memborong plat-plat musik rap ketika tinggal selama setahun di Jepang bersama keluarganya. “Tapi, setelah itu jarang banget gue dengar, karena memang jarang yang banget yang punya.” Kebanyakan orang, yang belum tentu mendapat akses terhadap referensi budaya dari luar negeri, hanya bisa menikmati hip hop lewat satu-dua lagu yang kebetulan dimainkan di radio atau lagu rap yang terselip dalam album kompilasi disko atau dance.

Perkenalan pertama masyarakat luas dengan budaya hip hop justru dimulai dari tari kejang. Pada tahun 1984, film berjudul Breakin’ dirilis di Amerika Serikat dan memantik demam tari kejang di seluruh dunia. Lagu berjudul Reckless karya Ice T, yang masuk dalam soundtrack film tersebut, menjadi pengiring wajib untuk melakukan tari kejang. Industri film Indonesia pun tidak tinggal diam menanggapi tren anyar ini. Hanya berselang setahun setelah Breakin’ sukses besar, film-film bertema tari kejang seperti Demam Tari, Gejolak Kawula Muda dan Tari Kejang Muda-Mudi dirilis ke pasaran.

Namun, kesadaran anak muda akan hip hop sebagai sebuah subkultur bisa dibilang nihil. Empat elemen penting dari kultur hip hop – rapping, breakdance, graffiti dan DJ – masuk secara terpisah, dan digandrungi oleh lapisan masyarakat yang berbeda pula. “Orang melihatnya sepotong-sepotong,” terang John Parapat, salah satu pendiri kelompok hip hop Sweet Martabak. “Orang melihat breakdance hanya sebagai breakdance dan orang melihat DJ hanya sebagai DJ di diskotik. Mereka tidak melihat itu sebagai bagian dari budaya hip hop.” Meski demam tari kejang telah mengenalkan versi mentah hip hop pada Indonesia, tak banyak yang betul-betul menggandrungi musik pengiring tari kejang itu sendiri. “Waktu itu, memang yang menjadi fokus utama adalah breakdance-nya.” Ucap Iwa.

Hip hop, sebagai genre musik, masih menjadi gimmick yang belum banyak dijajal oleh musisi, belum dinikmati secara luas oleh masyarakat, dan jelas belum dilirik oleh industri. “Gue bukan yang pertama. Sebenarnya, beberapa lagu sudah mulai bereksperimen dengan rap.” Tutur Iwa K. “Lagu Jalan-Jalan Sore, itu ada part yang mirip dengan rap.” Menilik ke belakang, lagu-lagu dari Farid Hardja dan bahkan tradisi berbalas pantun yang sempat dipopulerkan Benyamin S. dapat dianggap eksperimen awal dunia musik Indonesia dengan teknik rap.

Menjelang akhir dekade 1980-an, demam breakdance mulai reda. Namun, sebagian alumni generasi tari kejang mulai lebih serius bereksperimen dengan rap. Herry Sutresna, salah satu pendiri kelompok hip hop legendaris Homicide, mengisahkan bahwa ‘gelombang pertama’ rapper Indonesia mulai mencuat pada akhir dekade 1980-an. “Mereka anak-anak Indonesia pertama yang kenalan dengan rap,” tutur Herry. “Mayoritas memang tahu dari breakdance, tapi ada juga yang dengar dari radio, dan ada juga yang dari diskotik.” Meski skalanya belum terlalu besar, demam rap ini cukup untuk membuat tren kecil. “Diskotik mulai bikin kontes rap, karena memang lagi tren.” Lanjut Herry.

Salah satu rapper yang menonjol di gelombang pertama rap ini adalah Iwa Kusuma. Kala itu, Iwa muda membentuk band bersama teman-temannya yang memainkan musik jazz fusion, dengan Iwa sebagai rapper. Namun, bagi John Parapat, kemunculan gelombang pertama ini masih terlalu kecil gaungnya. “Gue yakin saat itu belum ada komunitas, dan belum ada yang bisa dibilang kumpulan rapper atau penggemar musik rap.” Sanggah John. “Iwa memang sempat bikin grup rap pas SMA, tapi gerakan itu sporadis. Enggak booming dan belum bisa dianggap tren.” Pendapat ini diamini oleh Iwa. “Untuk teknik rap, sebenarnya sudah banyak yang melakukan selain gue.” Tuturnya. “Tapi, tidak bisa dipungkiri, rap masih segmented banget.”

Namun, band Iwa tetap berhasil naik panggung di beberapa acara off air yang diadakan stasiun radio. Kala itu, radio masih sangat berpengaruh dalam menentukan tren budaya anak muda. “Di awal tahun 90-an, bahkan radio sudah punya acara yang khusus memainkan musik rap,” kisah Herry. “Tapi, waktu itu rap masih dianggap bagian dari musik dance. Sekeranjang dengan Michael Jackson dan Bobby Brown.”

Kecenderungan ini menunjukkan bagaimana para rapper generasi pertama masih kesulitan mengukuhkan jati dirinya sebagai genre musik yang terpisah. Pada tahun 1989, film populer Catatan Si Boy III sebenarnya sudah memasukkan lagu dengan unsur rap di album soundtrack-nya – sebuah nomor berbahasa Inggris berjudul Shame on Me. Namun, sekali lagi, Shame on Me seolah tak diakui sebagai musik rap. “Saat itu, musik seperti itu masih dianggap musik disko,” jelas John Parapat.

Terobosan bagi hip hop datang dari sumber yang tak terduga. Pada tahun 1987, Masaru Riupassa mendirikan Guest Band bersama Gustafa Hardjakoesoema, Toriawan Sudarsono, Yudhis Dwikorana, dan Satrya Marakarma. Dua tahun kemudian, kelompok R&B itu merilis lagu berjudul Ta’kan, yang meledak di pasaran. Kesuksesan lagu tersebut, sekaligus gaya musik mereka yang unik, membuat mereka diminta menjadi produser bagi Mellyana Manuhutu, seorang penyanyi asal Indonesia yang dikontrak label di Jepang.

Tawaran ini memberi peluang bagi Masaru dan kawan-kawan lain di Guest Band untuk mewujudkan impian yang selama ini belum terwujud: memantik lahirnya musik rap di Indonesia. “Kebetulan, kami semua suka musik orang kulit hitam,” tutur Masaru. “Sambil proyek Mellyana berjalan, kami kepikiran: ‘Wah, kalau di Indonesia ada rapper, keren nih!’ Dari situlah kita mulai cari rapper.”

Kabar baik datang dari adik ipar Masaru, yang saat itu sedang kuliah di Bandung. “Dia kasih tahu ke saya, ‘Di Bandung ada nih, temen gue. Dia jago nge-rap!’” kisah Masaru. Kenalan adik ipar Masaru ini adalah alumni generasi tari kejang, yang mulai bereksperimen dengan rap di band sekolahnya. “Waktu itu, kalau enggak salah dia anak Oz Radio Bandung. Suka nge-rap di situ waktu siaran.” Lanjut Masaru. “Ya sudah, kita ajak ketemuan.”

Rapper muda yang dikenalkan pada Masaru adalah seorang lulusan baru dan penyiar paruh waktu bernama Iwa Kusuma. “Di kantor Guest Music, kita punya plat dari Jepang, isinya beat-beat kosong.” Kenang Masaru. “Kita pasangin dan kita suruh dia nge-rap. Dia langsung nge-rap pakai bahas Inggris. Wih, ternyata dia jago!” Iwa mengambil nama panggung Iwa K, dan didapuk mengisi rap di beberapa lagu untuk album Mellyana.

Album Beatify dirilis tahun 1991 di Jepang, dan melejitkan nama Mellyana Manuhutu. Namun, Masaru justru penasaran pada Iwa. “Setelah dia ngisi di Melly, kita pikir, kenapa enggak setelah albumnya Melly jadi, kita bikin aja album rap Iwa sendirian. Enggak ada musuhnya, kan?” Guest lantas menghabiskan separuh bayaran mereka sebagai produser Mellyana untuk memborong piringan hitam dari Jepang, dan mesin sampler yang saat itu masih sulit ditemukan di Indonesia. Mereka memproduksi demo dengan Iwa K, dan menawarkan demo tersebut ke label-label besar.

Pada tahun 1993, album debut Iwa K, Kuingin Kembali, dirilis oleh label Musica Studios. Di luar dugaan, album tersebut laku 100 ribu kopi. Namun, terobosan sesungguhnya baru terjadi setahun kemudian. Album Topeng dirilis pada tahun 1994, masih di Musica Studios. Mengandalkan single berjudul Bebas, album tersebut laku 260 ribu kopi, dan revolusi musik rap benar-benar dimulai di Indonesia.

“Semua pada saat itu sedang mabuk rap.” Tutur Yacko, rapper asal Jakarta yang saat itu masih remaja. “Di Surabaya semua radio memutarkan rap. Kompetisi rap ada di mana-mana. Kalau sedang jalan-jalan, style-nya hip hop. Kalau jalan di PIM, pasti gayanya baju gombrong semua, celana dibalik ala KrissKross, pakai jersey.” Media massa juga berperan besar untuk membesarkan hip hop. Acara-acara seperti Tenda Mangkal yang diadakan radio Prambors, serta acara televisi seperti MTV yang mulai ditayangkan di Indonesia pada tahun 1995 semakin memberi ruang bagi musik rap – julukan bagi hip hop pada saat itu. Festival dan kompetisi rap pun menjamur, disponsori perusahaan-perusahaan besar seperti Ramayana dan Pasaraya.

“Hadiahnya enggak wah, tapi anak muda saat itu benar-benar cari panggung untuk mengekspresikan diri.” Kenang John Parapat. “Di era 90-an, banyak pelaku hip hop yang memang orang menengah ke bawah. Hip hop jadi menarik bagi mereka karena hip hop memberikan jalan keluar untuk mereka yang kurang fasilitas. Mereka yang kurang bisa bermusik, mereka yang suaranya enggak bagus-bagus amat, tapi mengerti irama, mengerti rhytm dan punya kemampuan untuk ngulik lirik, mereka bisa berekspresi lewat musik hip hop.”

Merebaknya festival-festival rap ini membuat Guest Music tergerak untuk mengadakan festival mereka sendiri, sekaligus mencari talenta rapper baru selain Iwa K. Pada tahun 1994, mereka mengadakan sebuah kompetisi rap di Jakarta Convention Center dengan majalah KawanKu. Guest Music didapuk menjadi juri. “Pada saat pemilihan, kita enggak terlalu memperhatikan beat-nya karena beat-nya pasti pakai beat orang lain.” Kisah Masaru. “Kita lebih melihat lirik dan cara dia menyampaikan rap-nya.”

Para finalis kompetisi ini kemudian diundang ke basecamp Guest Music di Cinere, Jakarta, dan merekam lagu untuk album kompilasi musik rap yang diproduksi Guest. Pada tahun 1995, album kompilasi Pesta Rap dirilis dengan lagu andalan Cewe Matre dari Black Skin. Album itu lantas laku 270 ribu kopi, melebihi angka penjualan album Topeng dari Iwa K yang juga terhitung tinggi.

Setahun kemudian, Guest Music meminta kelompok rap muda di seluruh Indonesia mengirimkan demonya, lagi-lagi melalui majalah KawanKu. Demo ini diseleksi lagi, dan kelompok dengan demo terbaik diundang untuk turut serta dalam album kompilasi Pesta Rap 2, yang dirilis tahun 1996. Di tahun 1997, alumni kedua album Pesta Rap bergabung untuk merilis album Pesta Rap 3. Album itu melahirkan single fenomenal Tididit dari Sweet Martabak, kelompok rap yang beranggotakan John Parapat dan rekannya, Ferri Yuniardo.

Namun, warisan terpenting dari Pesta Rap 3 adalah munculnya komunitas-komunitas rap skala kecil di Indonesia. “Setelah ada album Pesta Rap, akhirnya genre hip hop itu jadi ada di Indonesia.” Terang Masaru Riupassa. “Akhirnya mulai timbul rapper-rapper di indie label, mereka mulai bermunculan dan tumbuh.”

Pertumbuhan itu jelas butuh proses yang panjang dan sulit. “Mungkin, komunitas yang sifatnya terbatas sudah ada.” Tutur Iwa K. “Tapi, movement untuk naik ke permukaan, di mana anak-anak yang bukan di genre-nya bisa ngeh, belum ada. Masih ada di genrenya masing-masing.” Pada tahun 1994, misalnya, Herry Sutresna mendirikan kelompok hip hop legendaris Homicide bersama Aszy dan Lephe. Namun, meski kelompok ini bergerak secara independen, Homicide justru lebih lekat dengan scene musik hardcore ketimbang hip hop.

Salah satu faktor yang mencegah perkembangan komunitas hip hop yang independen adalah kurangnya referensi yang membahas hip hop secara kritis dan mendalam. “Di Indonesia, nyaris enggak ada media berbasis komunitas yang berdedikasi untuk membahas hip hop dengan serius.” Kritik Herry. “Ini agak bermasalah, karena di luar negeri sekalipun jurnalisme hip hop itu salah satu faktor yang membuat hip hop di sana progresif.”

Pendapat ini juga disuarakan John Parapat. “Gue enggak yakin ada satu media yang benar-benar khusus ngulik tentang hip hop saat itu sehingga orang sadar kalau hip hop ada empat elemen – rap, DJ, breakdance, dan graffiti.” Tuturnya. “Media masih mengupas soal hip hop sekadar dari sisi industri musik. Enggak ada yang ngulik soal kultur hip hop itu sendiri.”

Minimnya referensi ini membuat banyak orang beranggapan bahwa ‘musik rap’ hanya tren sesaat yang berkibar di arus utama, bukan suatu subkultur bernama hip hop yang (seharusnya) bisa dikembangkan secara mandiri. Faktor lain yang membuat hip hop terlambat ‘diserap’ scene bawah tanah adalah sulitnya akses terhadap alat-alat rekaman, produksi, dan distribusi musik. “Jadi independen di hip hop itu hampir mustahil dilakukan pada tahun 90-an,” ungkap Herry. “Tapi, industri mulai gede, dan tools-nya mulai ada, walau terbatas sekali.”

Namun, hip hop mulai menemukan jalan. Pada tahun 1999, kedua personil Sweet Martabak memulai media daring bernama hiphopindo.com, yang kemudian berganti nama menjadi hiphopindo.net. Berbekal artikel dari majalah bekas yang mereka tulis ulang, situs ini mengangkat hip hop secara lebih dalam dan mengenalkan hip hop sebagai budaya. Para pelaku hip hop pun berinisiatif mencari tahu lebih lanjut tentang hip hop dan mengembangkan scene di bawah tanah.

Faktor akses terhadap alat rekaman, produksi dan distribusi pun mulai terkikis. “Saya baru bisa rekaman di akhir tahun 90-an.” kenang Herry. “Tapi, alat-alat itu sendiri baru bisa diakses masyarakat luas di awal tahun 2000-an.” Pada tahun 1999, komunitas hip hop independen Rontak merilis album kompilasi Berontak tanpa dukungan industri. Tak lama kemudian, album kompilasi Perang Rap dirilis secara mandiri oleh Pasukan Records. Di Bandung, komunitas independen seperti Impartairial mulai rutin mengadakan acara secara mandiri.

Sebaliknya, akhir dekade 90-an menutup masa kejayaan hip hop di arus utama. Usai memproduksi album keempat Iwa K, Mesin Imajinasi (1998), Masaru memutuskan untuk hengkang dari Guest Music. Basecamp legendaris mereka di Cinere, yang tadinya jadi tempat berkumpul rapper generasi Pesta Rap, habis masa sewanya dan dikosongkan. Pada awal tahun 2000-an, musik pop dan alternative kembali merajai tangga lagu, dan Guest Music pecah kongsi.

“Gue rasa, secara industri hip hop turun di tahun 2000-an, tapi secara komunitas justru kita semakin solid.” Ujar John Parapat. “Semakin terbentuk, semakin jelas, semakin mengerti kalau ini hip hop, bukan hanya rap.”

Bertambahnya akses masyarakat pada internet di tahun 2000-an, dan dimulainya forum hip hop di situs hiphopindo.net, turut memantik munculnya rapper-rapper baru dari komunitas, sekaligus menjaga nyala api bagi nama-nama lama. “Karena gue ada di komunitas juga, gue justru merasa di tahun 2000-an komunitas hip hop jauh lebih aktif.” Lanjut John. “Tanpa harus gue keluarin album atau single, ada saja yang bikin event.”

“Seperti yang sudah kita saksikan dalam satu dekade terakhir, hip hop tidak lagi bergantung pada industri, berkat internet.” Tukas Herry Sutresna. “Diasporanya juga bisa sampai pelosok. Makin beragam pula. Kalian bisa belajar banyak tentang hip hop tanpa harus terkendala oleh akses. Dulu, hanya segelintir yang bisa beli dan baca majalah hip hop. Sekarang, itu sudah bukan masalah sama sekali.”

 


Referensi

Baso Djaya, Andi. “Gairah Hip Hop di Indonesia”.

Baso Djaya, Andi. “Ucok Homicide dan Perjuangan Hip Hop”.


Catatan Redaksi

Artikel ini direvisi pada tanggal 27 Januari 2017 oleh Redaksi, untuk menambahkan informasi terkait 'gelombang pertama' rap Indonesia pada tahun 80-an akhir, untuk memberikan narasi yang lebih seimbang dan konteks yang lebih jauh mengenai kemunculan hip hop di Indonesia. Atas ketidaknyamanannya, kami mengucapkan maaf. Selamat membaca!

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Produk Terkait

Artikel Serupa


Potret

04 Januari 2017

Hip Hop di Mata Young Lex

Raka Ibrahim

Ulasan

09 Januari 2017

Annie dan Isu Rasisme

Shadia Pradsmadji

Dialog

18 Agustus 2016

Kemerdekaan Mural

Fandy Hutari



Nama


Isi Komentar