back-button

“Salam unggas liar,” tulis Ziggy sebagai penutup salah satu emailnya kepada saya. Sebagai pemilik seekor angsa yang dijaga kelestariannya di rumah orangtua, saya merasa perlu membalasnya dengan, “Salam angsa liar.” Setelah itu, ia mulai memanggil saya “Angsa.”

Hal-hal semacam itu akan lumrah terjadi ketika kamu berbincang dengan seorang Ziggy Zeszyazeoviennazabrizkie. Ia adalah antitesis ke-sok-seriusan. Ia tampil apa adanya dan sangat bersahabat. Sesekali ia mendengkur/berdesis/menderum ganjil. Ia tak berusaha tampil “melampaui usianya,” atau, “ gothik artistik,” atau segala label lain yang mungkin bisa membuat orang lebih menyukai ia dan karya-karyanya.

Ziggy baru saja menjadi pemenang pertama dan satu-satunya dari Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dengan naskah Semua Ikan di Langit. Sebelum ini kita tahu ia adalah pemenang kedua kompetisi yang sama dua tahun sebelumnya dengan Di Tanah Lada. "Lada" berkisah tentang perjalanan Ava dan Pepper pada sebuah dunia yang dijajah orang dewasa.

Gramedia.com berkesempatan bertemu dengan Ziggy di Javaro, Palmerah, sehari setelah malam anugerah. Ketimbang berbagi tanya-jawab yang mekanistik, kami malah lebih banyak mengobrol dan tertawa-tawa. Wawancara kemudian saya lanjutkan via email. Kami banyak bertukar pengalaman terkait kecoak dan kolam renang, tahu bunting, dan Semua Ikan di Langit—yang akan diterbitkan awal 2017 oleh Grasindo. Kami juga mendapatkan izin dari editor Ziggy untuk menampilkan 231 kata dari Semua Ikan di Langit.


Gramedia.com: Apa hal-hal menarik ketika menulis Semua Ikan di Langit?

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Hal-hal menarik—apa ya? Saya ketemu toko roti enak sembari mengerjakan naskah ini dan saya menemukan bahwa saya bisa makan baguette tanpa dipotong, dan menghabiskannya dari ujung ke ujung dalam waktu 5 menit. On more nyambung-serious note: di tengah proses, barangkali untuk pertama kalinya, saya curhat ke orang mengenai tulisan saya. Dan saya senang karena tidak harus memikirkan nama untuk tokoh-tokoh dalam ceritanya, hehe.

G: Memangnya biasanya memikirkan nama tidak menyenangkan ya?

ZZ: Tidak. Karena dibesarkan dengan nama aneh, saya mengalami kesulitan dengan nama normal. Sebetulnya 'P' pada Di Tanah Lada dinamai P karena waktu saya menulis ceritanya, saya pikir, "Duh, kasih nama apa ya? Tulis P dulu deh, nanti dipikirkan lagi." Terus karena malas, jadilah namanya cuma begitu.

G: Kalau bisa memilih, apa nama pilihanmu?

ZZ: Surtinah, atau sesuatu yang lebih umum dan tidak mengundang kecurigaan publik perihal keaslian nama.

[Tilik kunci kebahagiaan keluarga menurut Ziggy.]

G: Apa saja yang dicurhatkan soal Semua Ikan di Langit ini? Ke siapa?

ZZ: Tidak banyak, cuma takut akan ada yang salah memaknai pesannya saja. Soalnya sebagai penulisnya, bahkan meskipun yang baca tidak menangkap maksudnya, saya tahu motif di balik setiap chapter—jadi membuat tertekan. Ke teman saja, karena dia tinggalnya jauh dan tidak akan menekan secara live, saya pikir akan baik-baik saja kalau cerita ke dia.

G: Boleh diceritakan munculnya ide Semua Ikan di Langit?

ZZ: Hmm—dulu aku punya ide cerita tentang bus yang jalan-jalan dengan kecoa (jantan, ini penting) keliling-keliling, setelah dunia sudah unlivable dan dipenuhi sampah (seperti waktu si bus pertama kali bertemu Beliau, hehe). Lalu saya mulai memikirkan bagaimana caranya bus jalan-jalan sendiri, lalu muncullah tokoh anak lelaki dan ikan-ikan. Tapi cerita ini saya tinggalkan karena saya jadi bingung sendiri. Sebenarnya naskah ini pun kurang-lebih campuran dari banyak ide cerita yang belum dieksekusi dengan lengkap. Misalnya, cerita tentang Hamba dan kembang kol, chapter-chapter tentang kakak dan adik, juga cerita tentang gaun dan pemiliknya. Saya pikir, saya suka cerita-cerita itu, tapi sepertinya tidak bisa dijadikan apa-apa (terutama cerita kembang kol!). Makanya, setelah mendaur-ulang cerita bus dan kecoa yang pertama, saya punya ide untuk menggabungkan cerita-cerita 'buangan' lainnya, dan lahirlah Semua Ikan di Langit, bayi kolot setebal 130 halaman.

G: Narator novelmu sebuah bus dalam kota—ada pengalaman mendalam dengan bus kota?

ZZ: Hmmm—kalau mendalam tidak ada, hehe. Tapi DAMRI adalah kendaraan jalan-jalan dengan Mama, dan saya ingat kalau, waktu kecil, saya mau jadi kondektur bus karena mereka selalu punya uang di tangan. Selain itu, tunangan kakak saya suka sekali dengan bus (tak paham kenapa), jadi saya pikir, kalau mau bertanya-tanya soal mekanisme dan jenis, saya punya tempat konsultasi. Untungnya tidak perlu dilakukan.

G: Wah, bagaimana tuh jalan-jalan sama Mamamu dengan Damri? Bisa diceritakan?

ZZ: He—saya tidak terlalu ingat soal acara jalan-jalannya, soalnya saya masih kecil sekali waktu kami masih suka berkeliaran dengan kendaraan umum. Tapi di seberang rumah saya memang adalah halte DAMRI, dan salah satu perhentiannya adalah mall yang merupakan satu-satunya spot dengan bioskop 21 di Bandarlampung. Kami bukannya pergi nonton sih, tapi adegan jalan-jalan dengan Mama yang saya ingat berawal dari halte depan mall itu.

G: Berapa lama proses penulisan Semua Ikan di Langit?

ZZ: Berdasarkan data MS Word, mulai ditulisnya tanggal 26 Agustus 2016. Selesai semuanya tanggal 28 September 2016, karena tanggal 29-nya saya print di tempat fotokopi depan kampus dan diketawain mbak-mbak yang mengurus percetakannya, lalu saya paketkan dan membuat mbak-mbak di JNE bertanya, "Ini buku, Mba?" karena saya kasih 4 bundel jilidan ga pake dibungkus. Mentahnya sekitar satu bulan, dengan interupsi di tengah-tengah selama beberapa hari untuk mengatasi meltdown.

G: Apa aja yang seru dalam pengerjaan novel ini - kesukarannya, tantangannya?

ZZ: Kalau kesukarannya sih saya anggap tidak ada, soalnya saya generally senang sekali mengerjakan naskah ini. Mungkin yang agak sulit adalah ketika saya mau mencari tahu kecoa punya berapa kaki, tapi tidak mau melihat gambar kecoa di komputer. Mencari data bio-satelilte yang mengirim Nadezhda asli juga considerably susah sih. Kalau diminta cari ulang, sepertinya saya akan gagal menemukan. Menggambarkan black hole dan white hole dengan acceptable scientific accuracy tanpa membuatnya kedengaran sama sekali seperti buku cetak fisika juga lumayan menantang, tapi karena saya menganggapnya enjoyable, tidak saya anggap kesulitan. Kalau yang paling seru adalah melihat-lihat daftar galaksi berbentuk macam-macam di Atlas of Peculiar Galaxy karya Halton Arp! Gambarnya cantik-cantik sekali, sampai semuanya mau saya masukkan ke dalam cerita. Apalagi yang bentuk burung.

G: Mengapa kamu tertarik untuk membuat cerita dengan elemen sains yang kental? Apalagi dengan tokoh yang boleh-dibilang sangat "magis."

ZZ: Sebetulnya, tahun ini, minat saya pada buku-buku fiksi sedang mengalami impotensi. Jadi supaya tidak berhenti baca sama sekali, saya memutuskan untuk menghabiskan buku-buku non-fiksi yang ada di kosan. (Tapi ternyata buku yang saya ambil perlu waktu sangat lama untuk selesai.)

Buku ini, seperti yang pernah saya ceritakan, adalah buku cetak pelajaran saya waktu di program pertukaran dulu (yang mana kelasnya saya ambil dengan setengah hati karena kelas neuroscience dibatalkan. Dosen yang mengajar, Prof. Lee Jae Shin, bicara dalam bahasa Inggris patah-patah, tapi gramatikanya tidak pernah salah, dan beliau mahir sekali merangkai kalimat, sehingga sains kedengaran seperti dongeng. (Bukannya bicaranya dalam bahasa sastrawi atau apa, tapi kontennya selalu menarik dan pilihan katanya selalu menarik. Sayangnya, sebagai pengajar, beliau lebih sering membuat mahasiswanya tidur di kelas. Tapi kalau pun ini terjadi, dia cuma bilang, "Biarkan saja, mungkin sedang capek.") Mengingat-ingat (dengan susah payah karena saya pun selalu mengantuk) kuliah yang disampaikan beliau, saya sadar bahwa ilmu pengetahuan bukan cuma pelajaran sekolah saja; tapi juga sesuatu yang sosial, politis, bahkan religius dan artistik.

G: Wah, mengapa ada impotensi minat dengan fiksi?

ZZ: Hm tidak yakin juga. Tahun sebelumnya, saya membaca beberapa buku fiksi yang menarik sekali. Barangkali saya tidak berhasil menemukan buku yang bisa live up to 2015 books, makanya mencari pelarian ke buku non-fiksi.

G: Buku-buku fiksi favorit selama 2015?

ZZ: Yang paling berkesan mungkin "Mister God, This is Anna"-nya Fynn. Napasnya mirip dengan Di Tanah Lada, dan, seperti pembaca DTL, saya pun kesal karena di akhir, tokoh Anna gak kedengaran seperti anak-anak, haha. Sayang, padahal kalau saya baca sebelum buat DTL, mungkin tidak akan dimarahi pembaca. Selain itu, mungkin juga Fahrenheit 451-nya Ray Bradbury; bikin bertanya-tanya, kalau kejadian betulan, chapter mana dari buku apa yang akan saya ingat.

G: Bukumu mengingatkanku dengan The Little Prince. Juri juga berpendapat begitu. Ada pengalaman berkesan dengan The Little Prince?

ZZ: Ini maha sungguh sangat flattering. Kalau pengalaman, mungkin tidak ada; kecuali waktu seorang teman melihat saya berdiri menunggu makanan tanpa kursi di kantin dan mengajak saya duduk di sebelahnya, dan menemukan kalau dia baru mulai membaca The Little Prince. Beberapa hari kemudian, saya menanyakan pendapatnya soal buku ini, dan dia bilang dia tidak terlalu paham. Sad. Tapi dia bercerita bahwa dia baru saja menjadi pemeluk agama Kristen, dan dia menceritakan sedikit mengenai ini. Anaknya sincere sekali, rasanya mau menghabiskan sisa bulan Desember untuk memberinya makan tahu bunting.

Tapi untuk saya, buku ini mengangkat isu yang sangat dekat; especially, but not limited to, forced adjustment to conformity. Mungkin buku ini saya anggap sebagai personal anthem of freedom.

G:  Bukumu sebelum ini, Di Tanah Lada, juga personal anthem of freedom sekali lho. Kalau yang itu bisa diceritakan proses konsepsi cerita dan penulisannya?

ZZ: Masak sih? Sebetulnya kalau Di Tanah Lada, saya masih berasa ada di bawah tekanan untuk menyesuaikan diri dengan buku-buku lokal; makanya setting dan penghuninya explicitly local. Makanya agak sulit, karena saya mendasarkannya pada mimpi waktu tidur siang dan mimpi saya mengambil setting luar; anak-anak tinggal di motel, di bawahnya ada restoran tempat mereka makan dan akhirnya menemukan salt and pepper shaker—panggilan yang mereka pakai karena tidak mau saling memberi nama. Karena mencoba menyesuaikan dengan setting dan karakter lokal, saya rasa ada beberapa bagian yang off. Kalau bicara soal complete freedom, saya tidak begitu bisa menganggam DTL sebagai personal anthem.

G: Paragraf/passage favorit dari Semua Ikan di Langit?

ZZ: Hehe, tidak tahu juga nih, sepertinya tidak quotable bukunya. Tapi mungkin saya suka waktu Membingungkan memperkenalkan diri sebagai Membingungkan. (*)


Cuplikan Semua Ikan di Langit

 

Membingungkan menghela napas panjang. Dia diam dan memandang langit, memandang matahari yang bersinar terik. Matanya, sepertinya, sudah tidak lagi takut pada cahaya membakar itu. Dia tidak memicing sama sekali. Melotot datar saja, seperti cara Beliau memandang seluruh dunia.

Ah, orang aneh. Dia bertanya-tanya kenapa orang-orang bilang dia membingungkan, sampai memanggil dia ‘Membingungkan’, padahal jawabannya jelas sekali: Karena dia orang aneh—dan memang membingungkan betul tingkah lakunya. Yah, apa boleh buat. Orang yang sungguh-sungguh aneh tidak pernah sungguh-sungguh tahu betapa aneh dirinya itu.

“Tidak punya teman, tahu?” kata Membingungkan, tiba-tiba, dengan pelan. “Aku. Tidak punya teman. Kerjaanku cuma memancing, seharian. Ketek bau amis dan kelakuan membingungkan; jelas saja tidak ada yang mau berteman denganku!

“Nah, suatu hari—suatu hari, ketika aku merasa seperti bungkusan saus tomat yang dibiarkan kedaluwarsa tanpa pernah dibuka, berharap aku terlahir sebagai wortel yang kini sedang bersiap direbus di dapur orang; pokoknya merasa tidak berguna dan tidak dipedulikan, dan berharap bisa segera mati menyakitkan—aku bawa perahuku jauh sekali ke tengah laut. Orang-orang tidak tahu aku pergi jauh, karena orang-orang tidak peduli soal aku. Orang-orang tidak tahu aku tidak pernah kembali, karena orang-orang tidak peduli soal aku. Aku melompat ke lautan, berharap ada hiu yang memakanku, tapi ternyata bahkan hiu juga tidak peduli soal aku. Padahal kupikir aku cukup gendut dan cukup bau ikan untuk dikira ikan gendut sungguhan."

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Potret

21 Agustus 2016

Kepingan-kepingan Ziggy Ketiga

Syarafina Vidyadhana

Ulasan

20 September 2016

Little Prince: Mengadaptasi dari Hati

Raksa Santana

Ulasan

20 Desember 2016

Tinju di Kamp Nazi

Charles DM



Nama


Isi Komentar