back-button

Perupa senior kelahiran Yogyakarta 1956, Yayak Yatmaka, pernah "diburu" pemerintah Orde Baru. Pasalnya, salah satu karyanya dianggap menyinggung keras sikap otoriter pemerintahan masa itu. Untuk menghindari ancaman Orba, ia pun hijrah ke Jerman, dan menetap di sana hingga 2005.

Karya-karya gambar seniman jebolan Institut Teknologi Bandung ini, memang penuh muatan politis. Ia kerap mengangkat isu HAM, sosial, dan ekonomi negara. Tentu saja, Yayak sadar betul aktivitasnya penuh risiko. Namun, ia tetap konsisten menyuarakan “kebenaran” lewat media gambar.

Kali ini, Gramedia.com mewawancarai Yayak untuk mengetahui aktivitasnya di bidang seni, dan bagaimana perlawanan ia hadirkan lewat gambar. Wawancara ini dilakukan melalui surat elektronik pada 15 Agustus 2016.

Gramedia.com: Saya mengamati, karya-karya Bapak penuh isu soal kemanusiaan. Dari sana, saya berpikir, Bapak orang yang sangat percaya kalau gambar adalah senjata untuk melawan. Apa yang mendasari hal itu?

Yayak Yatmaka: Gambar setelah dilihat akan memengaruhi persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan. Contoh  yang paling gampang adalah gambar bergerak yang berwujud iklan atau propaganda. Dan iklan adalah senjata para kapitalis pedagang, pengusaha, atau produsen barang tertentu untuk membuat  khalayak  membeli terus menerus barang-barang produksinya itu. 

Saya memilih untuk membuat counter-nya. Membuat gambar tandingan yang berlawanan atau melawannya. Propaganda counter propaganda. Counter propaganda itu bisa berupa juga media pendidikan. Bentuknya bisa berupa poster, manual bergambar, selebaran, brosur, stiker, dan gambar kaus. Media yang membuat masyarakat sadar dan kuat untuk bertahan hidup, dan lebih dari itu, kuat menghadapi serangan dari pihak lawan.

G: Apakah ada fragmen hidup Bapak yang mendasari, hingga akhirnya lahir tema-tema gambar karya Bapak yang banyak mengisahkan kritik kepada pemerintah dan kehidupan sosial?

YY: Saat peristiwa 1965, saya menyaksikan sebagian pamong guru Taman Siswa tempat saya bersekolah ditangkap dan disiksa di halaman sekolah. Pendapa Agung yang berlantai mengkilap, tempat biasanya kami bermain dengan melepas alas kaki, kotor oleh tapak sepatu tentara dan bersimbah darah dari luka-luka para guru dan murid tangkapan itu.

Pada saat menjadi mahasiswa ITB, awal 1978 kampus diserbu dan diduduki oleh ABRI, karena menyatakan penolakan Soeharto sebagai Presiden RI di pilpres selanjutnya. Ratusan mahasiswa disiksa dan ditangkap. Dewan Mahasiswa di seluruh universitas di Indonesia dilarang dan dibubarkan. Banyak para aktivis mahasiswa kemudian menyatakan bergerak sendiri atau bergabung dengan NGO yang ada, berkegiatan langsung membela rakyat yang ditindas.

Meneruskan kegiatan Gerakan Anti Kebodohan  yang sebelumnya menjadi kegiatan resmi Dewan Mahasiswa ITB, saya bersama kawan-kawan mahasiswa se-Indonesia berkegiatan membangun kelompok-kelompok pemerhati hak anak, di antaranya dalam hal melaksanakan pendidikan alternatif Anak Merdeka. Selain itu, saya juga melakukan gerakan penyadaran dan pengorganisasian perlawanan rakyat di berbagai wilayah konflik—di sektor buruh, petani, masyarakat marjinal, dan miskin kota.

Selama aktivitas itulah pemanfaatan gambar untuk pendidikan, penyadaran, dan perlawanan rakyat terus dilakukan. Selama itu pula, kerap kali mengalami kehilangan kawan aktivis dan rakyat dampingan, karena mati dibunuh atau membantu penderitaannya karena luka siksaan.

G: Bapak pernah membuat karya berjudul “Tanah untuk Rakyat” pada masa Orde Baru. Lalu, saya baca, karena karya itu pemerintah Orba marah. Bisa diceritakan soal karya itu, dan mengapa bisa membuat mereka berang?

YY: Itu karya poster kalender (1991) bertajuk Tanah untuk Rakyat. Karya itu menggambarkan secara penuh berbagai kejadian penindasan aparat Orde Baru dan tentara terhadap rakyat petani di berbagai wilayah di Indonesia.

Penguasaan tanah untuk kepentingan pembangunan atau pengusaha, dengan cara memaksa atau dengan ganti rugi yang rendah, telah mendatangkan konflik. Pemerintah Soeharto, dengan memanfaatkan kekuatan militer, kemudian  melakukan kekerasan membabi-buta yang menyebabkan korban tewas atau cacat dipihak rakyat yang melawan. Tentu saja, persoalan agraria dan penguasaan tanah itu menyangkut pula perlawanan patriotik di Aceh, Papua, dan Timor Timur.

Tergambar di poster itu misalnya, seorang nyonya gemuk berkacamata menyerupai Tien Soeharto, lupa mengenakan pakaian luar—pertanda tak tahu malu—sedang bersiap memukulkan stik golfnya di sebuah padang golf di daerah Cimacan, Jawa Barat. Padang golf itu dibangun dengan cara menembaki sampai mati lebih dari 6 petani dan membuat mencacat ratusan petani lainnya lewat penyiksaan-penyiksaan, saat mereka melawan atau menolak penggusuran tanah kebun milik mereka.

Gambaran kekerasan militer  itu juga sama, seperti yang terjadi saat perebutan tanah di Lampung, proyek bendungan Kedung Ombo, kandang sapi dan kuda Tapos milik keluarga Soeharto, taman-taman wisata, kompleks militer, perkebunan sawit, pertambangan, dan sebagainya. Tertulis di situ keterangan kecil tentang kejadian memilukan di berbagai wilayah. Juga, ada terpampang logo dari beberapa LSM dan organisasi mahasiswa yang menyatakan bertanggungjawab atas seluruh isi dari informasi yang dituangkan di poster itu.

Pada Maret 1991, poster kalender Tanah untuk Rakyat itu dinyatakan terlarang untuk diedarkan di seluruh Indonesia oleh Kejaksaan Agung. Pada Mei 1991, saya dinyatakan sebagai buronan subversif. Artinya, buronan yang boleh ditembak mati bila melarikan diri atau melawan.

G: Beberapa pameran Bapak pernah dilarang. Bisa diceritakan pameran-pameran di mana saja, dan apa alasan mereka melarangnya?

YY: Yang pertama akan coba dilarang adalah pameran “Gambar sebagai Senjata Rakyat Merdeka” di TIM pada 2013. Dengan alasan, gambar-gambarku akan mendatangkan kerusuhan dan menciptakan ketidakharmonisan sosial. Alasan pelarangan itu lahir ketika para pejabat TIM melihat contoh-contoh gambar yang akan dipamerkan, di antara tokoh dalam gambar di situ menyerupai SBY sedang bertingkah nista dan hina.

Akhirnya, pelarangan dibatalkan setelah memperoleh jaminan Rizal Ramli—mantan Menko Bidang Kemaritiman. Nyatanya, selama pameran berlangsung, apa yang bayangan buruk para pejabat TIM itu tak terjadi. Ribuan pengunjung pameran tetap tenang dan khusuk menikmati gambar-gambar yang dipajang, dari awal hingga pameran berakhir.

Pelarangan pameran terakhir adalah pameran illustrasi buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, pada Februari 2016. Alasannya, karena tak mengantongi izin polisi. Namun sebenarnya, karena pihak TIM dan kepolisian ketakutan akibat adanya ancaman serangan dari beberapa gerombolan Islam garis keras dan gerombolan begundal Orba.

G: Saat ini, Bapak juga menyebar karya-karya Bapak lewat jejaring sosial Facebook. Menurut Bapak, seberapa efektif melukis secara offline dan online, dalam hal menggugah kesadaran dan mengganggu penguasa?

YY: Menggambar dan menyebarkannya secara online lebih cepat dan memungkinkan tersebar ke seluruh planet bumi. Jarak makin pendek dan capaian makin meluas tanpa batas. Ditambah lagi, dengan kemajuan teknologi sudah hampir bisa dibilang menjangkau setiap tangan manusia di bumi, melalui teknologi handphone. Jadi, pandai-pandailah "berperang" (propaganda). Kekuatannya cepat menjadi viral. Kelemahannya, cepat terlewat dan dilupakan.

Menggambar offline dan manual, tetap diperlukan. Buku dan gambar tercetak diperlukan untuk mengajak orang melakukan perenungan dan pemikiran lebih mendalam. Atau dipakai untuk mengisi ruang kosong perangkat keras di bumi: lukisan hias atau lukisan dinding, poster tempel, baliho, spanduk, stiker, zine, street art, selebaran, dan sebagainya.

G: Karya-karya Bapak, terutama yang saya lihat di Facebook, terbilang keras. Adakah pengalaman Bapak, selain "diganggu" pada masa Orba, yang terjadi saat ini? Diteror misalnya.

YY: Saat ini ternyata pengaruh propaganda Orba masih cukup kental menguasai banyak kalangan. Stigma komunis kepada para pegiat sosial atau pembela HAM atas perkara-perkara agraria, petani, buruh, dan miskin kota masih terus ditimpakan. Teror akibat karya-karya kritik keras saya tentu saja ada. Tapi tak berarti. Kalau itu di disampaikan lewat medsos, tinggal di-delete atau diblokir. Selesai perkara.   

G: Bapak juga merilis buku menyoal sejarah 1965 dalam konsep komik. Apakah karya itu bisa memberikan perspektif baru bagi mereka yang kurang paham sejarah yang hingga kini masih kontroversial itu? Sejauh mana keefektifannya?

YY: Kami tetap optimis, sama optimisnya seperti saat masa ditindas Orba. Dan bagi kami, ini saatnya membalik dan meluruskan sejarah kebenaran sejati. Saatnya untuk membuka kesadaran masyarakat muda Indonesia bahwa selama Orba dan sesudahnya, kita masih ada dalam kuasa kedunguan masa lalu. Terus dibodohi dan dibohongi para begundal dan cecunguk Orba yang masih berpengaruh di lingkaran kekuasaan.

Buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula itu berisi separuh teks separuh gambar, setebal 612 halaman. Ringkasan dari referensi lebih 300 buku. Jadi, bisa teruji kebenarannya. Melihat gambar-gambar yang ada di situ saja, pastilah akan lahir kesadaran baru.

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Potret

15 September 2016

Wanggi Hoed, Melawan dalam Sunyi

Fandy Hutari

Esai

05 September 2016

Psycho I.D. dan Pemberontakan Kecil di Kamar Saya

Abdul Manan

Esai

14 Oktober 2016

Setan Orde Baru dan Setan Reformasi

Gea Rexy



Nama


Isi Komentar