back-button

Sosok atlet voli yang satu ini berbeda. Bahkan bisa dibilang anomali. Melihat potongan fisiknya, banyak orang pasti tertipu. Lengan berotot, tangan dan kaki yang kekar, dada bidang, serta gerak-gerik gesit, lebih dari cukup membuat orang menganggap ia seorang lelaki. Belum lagi lompatannya yang tinggi dan smes keras menukik, membuat siapa saja yang melihatnya tak percaya ia pevoli putri.

Apapun yang dipikirkan banyak orang merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan Aprilia Santini Manganang. Bahkan, hingga kini, wanita kelahiran Tahuna, Manado, Sulawesi Utara, 24 tahun silam masih berjuang untuk “membebaskan” diri dari prasangka tersebut.  

Saat ditemui awal Juli lalu, April tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) di Bandung, Jawa Barat, September mendatang. Keringatnya masih bercucuran, dan napasnya sedikit memburu, saat ditemui di Gelanggang Olahraga (GOR) Bekasi. Ia yang dipercaya memimpin tim voli Sulawesi Utara di PON tersebut tak bisa menyaput kegetiran. Bahwa perawakannya yang tampak seperti laki-laki, membuat dirinya sedih.

Status Gender

April mulai meniti karier voli profesional saat bergabung dengan klub yang hingga kini mengikatnya, yakni Alko Bandung. Alih-alih merambah karier dengan mulus, tantangan hampir selalu mengintai. Saat tampil di Liga Bola Voli Indonesia (Livoli) 2011, tim Popsivo Polwan sempat menolak menghadapi April dan kolega. Mereka mempertanyakan status gender April.

Tak berhenti di sana. Pengalaman pahit kembali terjadi di Livoli 2013. Kali ini, dua klub voli asal Jawa Timur, yaitu Bank Jatim Surabaya dan Petrokimia Gresik melancarkan protes. Bahkan, menurut April, hingga kini ia tak bisa leluasa tampil di Jawa Timur.

Tak hanya di dalam negeri. Penolakan serupa juga terjadi saat memperkuat timnas voli Indonesia di ajang internasional. Protes terjadi saat ia tampil di kualifikasi kejuaraan voli dunia zona Asia Tenggara di Vietnam. Terakhir, ia alami saat berlaga di SEA Games 2015 di Singapura. Saat itu, pelatih Filipina, Roger Gorayeb, meragukan status gender April dan meminta panitia memastikannya.  

“Saat itu saya sempat merasa patah semangat. Bahkan sempat protes kepada Tuhan mengapa saya harus seperti ini. Saya pun berpikir mungkin ini akhir perjalanan karier saya,”katanya.

Namun, berkat dukungan banyak pihak dan pembuktian melalui berbagai tes, ia bisa melewati rintangan itu. Ia percaya, di belakang dirinya masih ada orang yang selalu mendukung dan melindunginya.

Bagi April, tantangan yang dihadapi sama sekali tak membuatnya gentar. Justru, berbagai penolakan dan protes tersebut membuatnya semakin gigih untuk menunjukkan diri. Orang tuanya pun selalu menasihati, agar jangan pernah melawan dengan kekerasan, tapi dengan prestasi.

Inspirasi dan Prestasi

April tak lahir dari keluarga berada. Ia sudah merasakan kerasnya hidup sejak kecil. Ayahnya Akip Zambrut Manganang dan Ibunya Suryati Bori Lano, hanya  berprofesi sebagai pemasok minyak tanah dan pembantu rumah tangga. Dengan profesi tadi, tentu serba terbatas untuk menghidupi keluarga.

“Kami tinggal menumpang di rumah orang. Bahkan lampu listrik harus ditarik dari rumah tetangga. Bila listrik terkendala, maka kami terpaksa menggunakan lampu teplok,” ujar April.

Kondisi keluarga yang serba kekurangan seperti itu, memanggil April dan kakaknya Amasyia Manganang untuk turun tangan. Sebagai seorang anak, tak banyak yang bisa mereka lakukan. Menjual gorengan menjadi pilihan yang paling mungkin.

Pekerjaan itu dilakukan selama beberapa tahun. Inspirasi yang menuntunnya jadi pevoli datang dari kakaknya, Amasyia Manganang. Amasyia selalu kembali ke rumah membawa sejumlah uang usai tampil di turnamen voli antarkampung. Hal ini sedikit membuka mata April.  

“Ternyata olahraga seperti ini bisa menghasilkan uang,” katanya kala itu.

Sebelum terjun ke olahraga voli, April sempat menjajal atletik. Ia bahkan pernah tampil hingga tingkat provinsi. Setelah itu, penggemar klub sepak bola Real Madrid ini menekuni voli secara total. Ketika duduk di bangku SMA, April mengaku belum banyak mendapatkan materi dari voli. Uang Rp5 juta adalah penghasilan pertamanya dari voli, setelah tampil di Kalimantan.

Karier April semakin meroket. Saat memperkuat Valeria Papua Barat, ia sukses menempatkan tim itu duduk di posisi runner-up Proliga pada 2014. Di tahun berikut, April menuai keberhasilan menjadi jawara Proliga bersama Jakarta Electric PLN.

Kesempatan bermain di luar negeri pun sempat datang. Suatu kali, ia mendapat tawaran bermain di Montenegro. Namun, hingga kini belum ada kelanjutannya. April menduga, rangking voli Indonesia yang jauh tertinggal menjadikan atlet sulit promosi ke tingkat internasional.
Bersama klub yang sama, fans berat grup musik Slank ini, kembali mempertahankan kejayaan di ajang Proliga. Performa gemilang April pun berbuah penghargaan individu sebagai pemain terbaik atau Most Valuable Player (MVP). Indahnya, pencapaian tersebut diukir di hadapan kedua orang tuanya yang diundang ke Jakarta.

Berbagai prestasi tersebut, termasuk medali perunggu SEA Games 2015, membuat April bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua. Tekad yang sudah diperamnya sejak kecil itu kini telah berbuah nyata.  Dari jerih lelah bermain voli, April sudah mampu menghadiahi rumah kepada orang tuanya.

“Tahun kemarin kami membeli rumah yang sebelumnya kami tempati. Tidak hanya itu, saya juga bisa mengajak orang tua jalan-jalan. Tadinya hanya mimpi kini bisa terwujud,” ungkapnya.

Perempuanyang kini sedang menyelesaikan skripsi untuk memperoleh gelar sarjana manajemen ekonomi dari Universitas Bandung Raya itu sadar, tantangan tersebut akan terus menghampirinya. Jalan untuk “membebaskan” diri dari penilaian miring itu masih panjang. Namun, bagi April, semakin panjang jalan pembebasan itu, semakin mantap ia mengakrabi jati dirinya—menjadi diri sendiri.

“Dengan masalah ini saya menjadi lebih dewasa dan sadar. Saya juga tahu bahwa orang-orang seperti saya ini semestinya dilindungi. Saya ingin suatu saat bisa menceritakan kisah saya ini kepada mereka yang (bernasib) seperti saya,” kata dia.

 

Bagikan artikel ini: fbShare tweetShare emailShare

Ikuti perkembangan Gramedia.com di Facebook, Twitter dan Instagram

Komentar (0)

Rekomendasi Bacaan

Artikel Serupa


Esai

10 November 2016

Prahara Mengintai Indonesia Jelang Asian Games 2018

Charles DM

Dialog

07 September 2016

"The Spider Man" Carrasco Betah Berumah di Indonesia

Charles DM

Dialog

04 Agustus 2016

"Hidup Saya untuk Bulu Tangkis"

Charles DM



Nama


Isi Komentar